Refleksi Jum'at Prof. Rokhmin: Bukan Sekadar Doa, Ini Lima Agenda Hijrah untuk Umat Terbaik
ASKARA– Anggota DPR RI Komisi IV Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menegaskan Muharram adalah momentum “Refleksi” terbesar bagi umat Islam Indonesia: saat untuk muhasabah, hijrah, dan membuktikan diri sebagai “umat terbaik” bukan hanya di masjid, tapi juga di parlemen, sawah, dan lautan.
Ia merumuskan “Lima Agenda Hijrah Muharram” sebagai panduan bagi umat Islam Indonesia. Menurutnya, tahun baru Hijriah bukan sekadar seremoni pawai obor, tapi momentum transformasi total dari individu hingga negara.
“Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah itu bukan pelarian. Itu strategi perubahan peradaban. Muharram kita hari ini harus meneladani semangat itu: berani hijrah dari keterpurukan menuju kemuliaan,” tegas Prof. Rokhmin.
Beliau menyebut lima agenda ini relevan untuk menjawab krisis moral, ekonomi, dan sosial yang masih membelit bangsa.
1. Muhasabah Total: Evaluasi Diri sebagai Individu dan Bangsa
Agenda pertama adalah muhasabah total. Prof. Rokhmin mengajak rakyat Indonesia bercermin pada QS. Al-Imran: 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
“Ukur diri kita pakai ayat itu. Sudah beriman? Sudah amar makruf nahi munkar? Sudah berbuat kebaikan? Kalau belum, berarti kita belum jadi umat terbaik. Muharram ini waktu yang tepat untuk evaluasi,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004.
Muhasabah, kata dia, tidak cukup pribadi. Bangsa ini juga harus muhasabah. “Kenapa negara maritim tapi nelayannya miskin? Kenapa tanah subur tapi impor pangan? Itu hasil muhasabah nasional yang harus dijawab dengan hijrah.”
2. Hijrah Moral: Dari Mental Korup ke Jujur dan Amanah
Agenda kedua adalah hijrah moral. Bagi Prof. Rokhmin, tidak ada hijrah tanpa revolusi mental. “Kalau kita mengaku umat terbaik, mana buktinya? Masih terima suap? Masih lindungi koruptor? Masih tutup mata pada kezaliman?”
Beliau mengutip pernyataannya yang viral di Indonesia Lawyers Club: “Dapat 10 M tapi dilempar ke neraka jahanam!!” Menurutnya, Muharram harus jadi momentum hijrah dari mental pembela kejahatan menjadi mental umat terbaik: jujur, amanah, dan berani nahi munkar.
“Kejar hasanah, kebaikan dunia-akhirat. Jangan hanya minta kaya di dunia, tapi lupa minta selamat dari api neraka. Itu doa sabu jagat yang diajarkan Rasulullah,” tambahnya.
3. Hijrah Ekonomi: Dari Ketergantungan Impor ke Kedaulatan Pangan dan Maritim
Agenda ketiga menyasar sektor yang jadi keahlian Prof. Rokhmin: pangan dan maritim. “Hijrah hari ini artinya berpindah dari kebiasaan lama yang kurang produktif menuju inovasi. Dari menyerah pada keadaan, menjadi berdaya. Dari ketergantungan, menuju kedaulatan pangan dan ekonomi.”
Beliau miris dengan paradoks Indonesia. “Kita punya laut 6,4 juta km persegi, garis pantai terpanjang kedua dunia, tapi 62% nelayan hidup di bawah garis kemiskinan standar Bank Dunia $96/orang/bulan. Tanah kita subur, tapi beras, kedelai, gula, daging, masih impor.”
Hijrah ekonomi, menurut Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) itu,
wajib hukumnya. Caranya dengan “prosperity approach”: modernisasi kapal nelayan di atas 100 GT, industrialisasi perikanan, dan stop kebijakan yang mematikan petani-nelayan.
4. Hijrah Sosial: Lawan Oligarki dan Kemiskinan Struktural Nelayan-Petani
Agenda keempat adalah hijrah sosial. Prof. Rokhmin mengutip data Oxfam: 1% orang Indonesia menguasai 48% kekayaan nasional. “Ini ironi. Ini tidak adil. Ini bukan ciri umat terbaik.”
Muharram harus jadi pengingat untuk melawan kezaliman struktural dan oligarki. “Kalau umat terbaik diam saja lihat ketimpangan, berarti kita belum hijrah,” tegasnya.
Solusi yang ia tawarkan adalah “security approach” untuk nelayan. “China saja bisa jaga nelayannya sampai ke Natuna dengan kapal patroli. Kenapa kita tidak? Negara harus hadir bela rakyat kecil di laut.”
5. Hijrah Kebijakan: Pastikan APBN dan UU Berpihak pada Rakyat Kecil
Agenda kelima adalah muara dari semua hijrah: kebijakan negara. Sebagai Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Rokhmin menegaskan Islam rahmatan lil ‘alamin harus dibuktikan lewat kerja nyata, bukan sekadar ceramah.
“APBN harus untuk nelayan, petani, buruh, UMKM. UU harus melindungi yang lemah, bukan hanya yang kuat. Kalau kebijakan masih pro oligarki, berarti kita belum hijrah sebagai bangsa,” katanya.
Indonesia sebagai negara Muslim terbesar, lanjutnya, punya tanggung jawab menunjukkan bahwa nilai Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. “Caranya dengan menjaga persatuan dan memastikan setiap kebijakan berpihak kepada rakyat kecil.”
Ia berharap momentum Tahun Baru Islam 1448 H menjadi penguat semangat kebersamaan. "Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita semua untuk hijrah menuju Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera." (Dari berbagai sumber)

Komentar