Jumat, 26 Juni 2026 | 01:28
COMMUNITY

TBBR Gaungkan Pelestarian Adat dalam Ngertakeun Bumi Lamba ke-18

TBBR Gaungkan Pelestarian Adat dalam Ngertakeun Bumi Lamba ke-18
Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) Wilayah DKI Jakarta hadir dalam kegiatan Pagelaran Ngertakeun Bumi Lamba ke-18 (Dok TBBR)

ASKARA - Kabut tipis yang menyelimuti lereng Gunung Tangkuban Perahu menjadi saksi berkumpulnya ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia dalam Pagelaran Ngertakeun Bumi Lamba ke-18, Minggu (21/6/2026). Kegiatan budaya dan spiritual yang telah menjadi agenda tahunan ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, perhelatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya mempertahankan identitas budaya serta nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.

Salah satu perhatian utama peserta tahun ini tertuju pada kehadiran Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR) Wilayah DKI Jakarta. Untuk pertama kalinya, organisasi budaya Dayak tersebut menerima undangan khusus dari panitia penyelenggara, sebuah pengakuan atas eksistensi dan kontribusinya dalam menjaga serta memperkenalkan budaya Nusantara.

Tidak hanya dihadiri TBBR Wilayah DKI Jakarta, kegiatan ini juga melibatkan Dewan Pengurus Pusat (DPP) TBBR serta perwakilan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) TBBR Malaysia. Kehadiran berbagai unsur TBBR dari dalam dan luar negeri memperlihatkan kuatnya ikatan persaudaraan masyarakat Dayak yang melampaui batas wilayah dan negara.

Sebanyak 48 anggota TBBR, termasuk empat orang Mangku, hadir dalam rombongan yang dipimpin langsung oleh Pangalangok Jilah (PJ). Mengenakan atribut khas Pasukan Merah TBBR, rombongan tampil mencolok dan menjadi salah satu pusat perhatian di tengah ribuan peserta yang memadati kawasan Tangkuban Perahu.

Banyak peserta dan pengunjung terlihat mendekati rombongan TBBR untuk berfoto, berdialog, dan mengenal lebih jauh tentang budaya Dayak yang mereka representasikan. Kehadiran TBBR dinilai berhasil memperkaya nuansa kebhinekaan dalam pagelaran tersebut.

Dalam kesempatan itu, Pangalangok Jilah menyampaikan pesan penting tentang arti adat dan budaya bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Menurutnya, adat bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan fondasi yang menopang identitas dan jati diri masyarakat.

“Kita harus melestarikan adat dan budaya sebab manusia tanpa adat ibarat pohon tanpa akar. Cepat atau lambat, pohon itu akan mati,” tegas Pangalangok Jilah di hadapan peserta.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak memandang rendah berbagai tradisi yang diwariskan leluhur, termasuk simbol-simbol budaya yang masih dipraktikkan hingga saat ini.

“Jangan risih dengan bau kemenyan atau dupa, jangan pula mengatakan itu kuno. Sebab kalau tidak ada yang kuno, tidak akan ada yang kini,” ujarnya.

Menurutnya, kemajuan zaman tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan akar budaya. Justru di tengah perubahan global yang begitu cepat, nilai-nilai adat dan tradisi menjadi pegangan penting agar masyarakat tidak kehilangan identitasnya.

Pangalangok Jilah menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga adat dan budaya merupakan tugas bersama lintas generasi. Para tetua adat memiliki kewajiban mewariskan nilai-nilai luhur, sementara generasi muda berkewajiban menjaga dan melestarikannya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

“Yang tua harus mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Yang muda wajib menjaga dan melestarikan adat serta budaya leluhur agar tetap hidup dan berkembang,” pesannya.

Pagelaran Ngertakeun Bumi Lamba ke-18 pun menjadi momentum untuk memperkuat pesan persatuan dalam keberagaman. Dari lereng Gunung Tangkuban Perahu, para peserta kembali diingatkan bahwa adat, budaya, dan kecintaan terhadap bumi merupakan fondasi penting dalam membangun kehidupan yang harmonis dan berkelanjutan.

Melalui semangat kebersamaan yang ditunjukkan berbagai komunitas budaya yang hadir, kegiatan ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang memperkokoh persatuan bangsa Indonesia.

 

Komentar