Kurban Bukan Korban
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Bahasa itu kejam. Satu huruf geser, nasib kata berubah. “Kurban” dan “korban” kedengarannya mirip. Tapi di ranah semantika linguistik, jaraknya selangit.
“Kurban” serapan dari bahasa Arab qurban yang akarnya q-r-b artinya dekat. Jadi kurban = sesuatu yang mendekatkan. Mendekatkan manusia ke Tuhan, mendekatkan hati ke sesama. Maknanya aktif, transenden, penuh kehendak.
“Korban” juga sama serapan dari bahasa Arab qurban, tapi lewat Melayu dan hukum Belanda. Di KBBI: orang yang menderita kerugian, menderita karena perbuatan orang lain. Maknanya pasif, resiprokal, tanpa kuasa. Korban nggak milih. Dia dipilih penderitaan.
Berarti secara semantis, kurban punya agentiviti. Korban kehilangan agentiviti. Yang satu subjek, yang lain objek.
Ucap “kurban” di Idul Adha. Yang kebayang: kambing, pisau, doa, daging dibagi ke tetangga. Ada haru, ada syukur, ada kebersamaan. Konotasinya mulia, rela, spiritual.
Ucap “korban” di berita. Yang kebayang: banjir, kecelakaan, PHK, penipuan online, pinjol , judi on line, keracunan MBG. Ada luka, ada air mata, ada rasa kasihan. Konotasinya tragis, dirugikan, lemah, konyol, tidak berdaya. Seperti saya tidak berdaya melawan angkara murka pada saat menyaksikan warga Bukit Duri digusur secara sempurna melanggar hukum pada 28 September 2016.
Bahasa membentuk framing. Kalau media nulis “korban Idul Adha”, publik mikirnya ada yang celaka pas motong kambing. Padahal maksudnya “hewan kurban”. Framing salah, empati publik melenceng.
Kalau kamu bilang “Saya mau berkurban tahun ini”, kamu pegang kendali. Kamu subjek. Kamu kasih. Kamu naik derajat.
Tapi kalau kamu bilang “Saya jadi korban tahun ini”, kamu lepas kendali. Kamu objek. Kamu kena. Kamu turun derajat.
Makanya negara dan korporasi suka pakai kata “korban”. “Korban PHK”, “korban efisiensi”. Enak. Kesannya semua pasif. Nggak ada yang disalahkan. Padahal di balik “korban” selalu ada “pelaku”.
Sebaliknya, agama dan tradisi menggunakan “kurban”. Tujuannya menyadarkan bahwa: penderitaan bisa punya makna kalau kita yang memilih. Rasa sakit jadi ibadah, bukan jadi statistik. Semantika ngajarin kita begini: jangan remehkan satu huruf. “U” vs “O” itu beda antara memberi vs diberi. Antara dekat ke Tuhan versus jauh dari kuasa.
“Kurban urban bukan korban” bukan cuma slogan Idul Adha. Itu perlawanan bahasa. Kita tolak jadi objek terus. Kita pilih jadi subjek yang memberi, walau yang kita kasih cuma tenaga, waktu, atau maaf.
Jadi lain kali ada yang menyebut atau menulis “korban Idul Adha”, koreksi pelan : “Pak (atau Ibu), itu kurban. Karena kita tidak sedang berduka. Kita sedang mendekat”.

Komentar