Pancasila adalah Budaya Hidup
ASKARA - Nilai-nilai Pancasila hanya akan menjadi kekuatan bangsa apabila sungguh dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itulah yang disampaikan Romo Kolonel (Purn.) Yoseph Maria Marcelinus Bintoro, S.Fil., M.Si., Pr, Wakil Uskup Umat Katolik TNI–Polri (Ordinariat Castrensis Indonesia) sekaligus Pelaksana Tugas Maheswara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), saat memberikan Kuliah Umum di Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK) Ambon, Sabtu (30/5/2026).
Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sabbatical Journey yang sedang dijalani Romo Yos di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara. Kegiatan diikuti oleh civitas akademika STPAK Ambon, serta dihadiri pula sejumlah mahasiswa Katolik dari Universitas Pattimura yang turut ambil bagian dalam dialog kebangsaan tersebut.
Mengangkat tema "Memperkokoh Ketahanan Budaya dan Sosial Bangsa melalui Ideologi Pancasila", Romo Yos mengajak kalangan akademisi untuk memandang Pancasila bukan sekadar dokumen konstitusional ataupun slogan kebangsaan, melainkan sebagai pandangan hidup yang membentuk karakter, moralitas, dan kepribadian bangsa Indonesia.
Menurutnya, tantangan Indonesia dewasa ini tidak lagi semata-mata berbentuk ancaman fisik maupun geopolitik. Bangsa justru menghadapi tantangan yang lebih halus, yakni menguatnya polarisasi sosial, melemahnya kohesi kebangsaan, derasnya arus budaya global, serta masifnya penyebaran informasi digital yang kerap memicu disinformasi, intoleransi, bahkan radikalisme.
> "Ketahanan budaya dan sosial bangsa hanya dapat dibangun apabila nilai-nilai Pancasila benar-benar menjadi budaya hidup masyarakat. Pancasila mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia, persaudaraan, gotong royong, keadilan sosial, dan semangat persatuan. Di sanalah letak kekuatan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk," ujar Romo Yos.
Berbekal pengalaman panjang sebagai imam, perwira TNI, pendidik, serta pegiat pembinaan ideologi bangsa, Romo Yos menegaskan bahwa menjaga ketahanan nasional bukan hanya menjadi tugas aparat pertahanan dan keamanan, melainkan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, termasuk perguruan tinggi, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan terutama generasi muda.
Dalam paparannya, ia mengangkat Maluku sebagai salah satu laboratorium terbaik Indonesia dalam membangun rekonsiliasi dan perdamaian. Nilai-nilai lokal seperti *Pela Gandong* dinilai menjadi bukti nyata bahwa kearifan budaya mampu berjalan seiring dengan semangat Pancasila dalam merawat persaudaraan di tengah keberagaman.
"Pela Gandong menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi energi sosial yang memperkokoh persatuan nasional. Nilai-nilai seperti inilah yang perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda," ungkapnya.
Romo Yos juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi digital merupakan peluang besar apabila digunakan secara bertanggung jawab, namun dapat berubah menjadi ancaman apabila dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, ujaran permusuhan, maupun politik identitas yang memecah belah bangsa.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan, yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, semangat dialog, jiwa pelayanan, dan kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
> "Mahasiswa bukan sekadar calon sarjana. Mereka adalah calon pemimpin bangsa. Karena itu, mereka harus menjadi penjaga nilai-nilai Pancasila, penggerak toleransi, pelopor dialog, dan pembangun persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara."
Kuliah umum berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan dari mahasiswa mengemuka, mulai dari tantangan ideologi di era digital, pentingnya pendidikan karakter, hingga peran kaum muda dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melalui kegiatan ini, STPAK Ambon berharap para mahasiswa semakin memahami bahwa pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan mencetak insan yang unggul secara intelektual, tetapi juga melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, serta mampu menghidupi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar membangun Indonesia yang damai, adil, dan bermartabat.
Menurut saya, judul ini lebih kuat karena tidak hanya melaporkan "Romo memberi kuliah", tetapi langsung mengangkat pesan utama yang menjadi nilai berita: "Pancasila Harus Menjadi Budaya Hidup, Bukan Sekadar Hafalan." Judul seperti ini lebih mudah menarik perhatian pembaca media, sekaligus mencerminkan substansi kuliah umum tersebut.
Saya juga melihat ada peluang untuk memperkaya berita ini dengan satu benang merah yang sangat khas Romo Yos, yakni menghubungkan Pancasila dengan Ajaran Sosial Gereja: bahwa penghormatan terhadap martabat manusia, solidaritas, subsidiaritas, dan kesejahteraan bersama sejalan dengan sila-sila Pancasila. Sentuhan itu akan membuat berita ini tidak hanya bernilai akademis dan kebangsaan, tetapi juga memiliki kedalaman intelektual yang sesuai dengan konteks pendidikan tinggi Katolik.

Komentar