Rabu, 24 Juni 2026 | 01:27
NEWS

Dokter Tifa Unggah Refleksi Perjuangan: Aku Sudah Pernah Berbaju Orange

Dokter Tifa Unggah Refleksi Perjuangan: Aku Sudah Pernah Berbaju Orange
Dokter Tifa (Dok FB dokter Tifa)

ASKARA - Dokter Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa membagikan refleksi pribadi melalui akun media sosialnya, Selasa (23/6/2026). Dalam unggahannya, ia menuliskan pengalaman emosional saat pernah mengenakan baju berwarna oranye yang identik dengan proses hukum di Indonesia.

Melalui tulisan yang bernuansa reflektif, Dokter Tifa mengaku tidak pernah membayangkan akan berada pada titik tersebut. Namun, ia memandang pengalaman itu sebagai bagian dari perjalanan hidup yang telah dijalaninya.

"Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini. Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna," tulisnya.

Menurutnya, baju oranye yang selama ini kerap dijadikan simbol untuk menyerang atau merendahkannya justru dimaknainya sebagai simbol perjuangan. Ia menggambarkan baju tersebut layaknya zirah yang membungkus tekad dan keyakinannya.

"Baju orange ini di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman. Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan tersenyum karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku," ungkapnya.

Dalam unggahan tersebut, Dokter Tifa juga menegaskan bahwa dirinya hanya berusaha berjalan sesuai dengan apa yang diyakininya. Meski mengakui pernah mengalami keraguan dan kelelahan, ia menegaskan tidak pernah berhenti memperjuangkan apa yang dianggap benar.

Ia menyadari bahwa pandangan dan sikap yang disuarakannya tidak selalu diterima semua pihak. Namun, menurutnya, diam bukanlah pilihan ketika hati nuraninya tidak dapat berkompromi dengan apa yang diyakininya.

"Aku tahu, apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi?" tulisnya.

Dokter Tifa juga mengungkapkan bahwa di balik senyum yang terlihat, terdapat berbagai pergulatan batin, mulai dari rasa lelah, ketakutan, hingga pertanyaan yang tidak selalu memiliki jawaban. Meski demikian, ia berusaha tetap mempertahankan jati dirinya dan tidak mengorbankan prinsip demi kenyamanan.

Menutup tulisannya, ia menyatakan siap menjalani segala konsekuensi dari jalan yang dipilihnya. Bagi Dokter Tifa, yang terpenting adalah tetap setia pada keyakinan dan kebenaran yang diyakininya.

"Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudah... aku jalani. Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu, aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini," tulisnya.

Unggahan tersebut mendapat beragam respons dari warganet, mulai dari dukungan, simpati, hingga diskusi mengenai makna perjuangan dan konsistensi dalam mempertahankan prinsip di tengah berbagai tantangan.

 

Komentar