Praktisi Maritim NTT: Geothermal Bukan Pilihan Tepat untuk Energi NTT
ASKARA - Praktisi maritim Indonesia asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Wilhelmus Lawe Wahang, menilai energi panas bumi atau geothermal bukan pilihan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan energi di NTT.
Pandangan tersebut disampaikan Marianus yang saat ini berada di kawasan Teluk Persia, Minggu (10/8/2026). Menurutnya, pengembangan geothermal memiliki konsekuensi ekologis jangka panjang yang perlu menjadi pertimbangan serius sebelum dijadikan salah satu sumber utama energi di NTT.
"Beban ekologis energi geothermal berdampak lama dan memerlukan biaya recovery lingkungan lebih mahal daripada jumlah dan manfaat energi geothermal yang diperoleh. Oleh sebab itu, energi geothermal tidak tepat untuk memenuhi kebutuhan energi di NTT," ujar Marianus.
Ia menilai kebijakan energi di NTT semestinya tidak hanya mempertimbangkan besarnya potensi energi yang dapat dihasilkan, tetapi juga menghitung secara menyeluruh biaya ekologis, risiko terhadap lingkungan, serta keberlanjutan sumber energi dalam jangka panjang.
Menurut Marianus, NTT justru memiliki sejumlah potensi energi alam yang dinilai lebih sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan. Di antaranya energi angin, arus laut dan sinar matahari yang dapat dikonversikan menjadi energi listrik.
"Dari aspek kesehatan lingkungan dan beban lingkungan yang rendah, energi alam yang tepat untuk NTT adalah energi angin, arus laut dan sinar matahari yang dikonversi menjadi energi listrik," katanya.
Marianus menyadari pemanfaatan energi angin, arus laut dan tenaga surya membutuhkan teknologi serta investasi yang tidak sedikit. Namun, menurutnya, investasi tersebut perlu dilihat sebagai pembangunan infrastruktur energi jangka panjang, bukan semata-mata berdasarkan biaya awal.
Ia menilai sumber energi tersebut memiliki keunggulan karena tersedia secara berkelanjutan. Matahari tetap bersinar, angin terus bergerak dan arus laut terus berlangsung sehingga memiliki potensi pemanfaatan energi dalam jangka panjang.
Selain persoalan keberlanjutan, Marianus juga menyoroti aspek risiko lingkungan. Menurutnya, pemanfaatan energi angin, matahari dan arus laut memiliki risiko perubahan terhadap struktur geologi yang lebih rendah dibandingkan pengembangan energi yang berkaitan langsung dengan kondisi bawah permukaan bumi.
"Selain itu, dari segi risiko lingkungan sangat minim karena tidak mengubah struktur geologi bumi," ujarnya.
Karena itu, Marianus mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan di NTT melakukan kajian energi secara lebih komprehensif. Potensi geografis sebagai wilayah kepulauan, menurutnya, harus menjadi dasar dalam menentukan teknologi energi yang dikembangkan.
NTT, kata dia, tidak semestinya hanya melihat kebutuhan listrik dari sisi besarnya kapasitas pembangkit. Aspek ekologis, karakter wilayah, biaya pemulihan lingkungan dan keberlanjutan sumber energi juga harus menjadi bagian penting dalam menentukan arah kebijakan energi daerah.
Pandangan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar pengembangan energi di NTT tidak terjebak pada pilihan teknologi tertentu, melainkan mempertimbangkan sumber energi yang paling sesuai dengan karakter alam dan kebutuhan masyarakat setempat.
Dari Teluk Persia, Marianus menegaskan bahwa transisi energi NTT seharusnya diarahkan pada sumber energi yang mampu memberikan manfaat panjang dengan risiko lingkungan serendah mungkin.
"NTT memiliki matahari, angin dan laut. Ketiganya tidak akan habis hanya karena dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik," pungkasnya.

Komentar