Psikoanalisis Piara Anjing dan Kucing
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Manusia punya budaya memelihara hewan di dalam rumah manusia, bukan cuma karena "lucu". Di balik itu ada cermin budaya manusia memproyeksikan diri ke hewan peliharaan mereka.
Budaya pelihara anjing = budaya kesetiaan. Dari gua sampai apartemen, anjing = partner kerja. Gembala, berburu, pelacak, jaga rumah. Analisis: Pemilik anjing suka status "diperlukan". Bangun pagi disambut, pulang kerja disambut kayak pahlawan. Dia ngajarin manusia: cinta itu hadir, sambil kipat-kipit ekor , Tidak banyak syarat. Makanya budaya anjing kuat di masyarakat komunal, militer, polisi. Nilai: loyalitas lebih dari segalanya. Hachikō bertemu Prof. Ueno, pemiliknya di Stasiun Shibuya, Tokyo setiap hari setelah perjalanan pulang dari kerja. 21 Mei 1925, Prof. Ueno mendadak meninggal karena pendarahan otak di saat sedang bekerja. Sejak saat itu pula Hachikō hingga kematiannya sendiri pada 8 Maret 1935, Hachikō senantiasa kembali ke Stasiun Shibuya setiap hari untuk menunggu kepulangan Ueno. Kini berdiri monumen Hachiko di depan stasiun Shibuya untuk mengenang kesetiaan seekor anjing.
Budaya pelihara kucing = budaya otonomi. Mesir kuno deifikasi kucing. Jepang punya boneka kucing "Maneki Neko" di samping robot kucing bernama Doraemon. Analisis: Pemilik kucing suka status "dipilih". Kucing Tidak nurut perintah. Dia datang kalau mau, pergi kalau bosan. Dia ngajarin manusia: cinta itu ruang, bukan rantai. Makanya budaya piara kucing meledak di kota, apartemen, pekerja remote. Nilai: kebebasan lebih dari kepatuhan.
Pemilik anjing = disiplin. Jam 6 pagi hujan-hujanan harus keluar rumah agar anjing jangan buang air di dalam rumah . Hidupnya diatur jadwal "walk the dog". Analisis: Anjing ngedidik manusia bertanggung jawab. Tidak bisa dadakan bilang "ah males".
Pemilik kucing = negosiasi. Mau main? Boleh. Mau diabaikan? Oke. Kotak pasir dibersihin, tapi kucing tidak meong makasih. Yang penting kasih gue makan ! Analisis: Kucing ngedidik manusia jadi sabar + nerima penolakan secaera elegan. Sakit hati tapi tetap sayang.
Coba cek Instagram. Video anjing = "lihat dia nurut, pinter, setia!" Komentar: "Good boy!". Itu budaya pujian.
Video kucing = "lihat dia judes, Tidak peduli, tapi gemesin". Komentar: "Relate banget". Itu budaya meme + self-deprecating. Analisis: Anjing = kita pengen dipuji. Kucing = kita pengen dimengerti. Makanya meme kucing viral pas orang lagi burnout. Ada profesi dog whisperer tapi tidak ada cat whisperer sebab kucing tidak peduli apa kata manusia.
Anjing nekat: lompat ke kolam demi ambil bola. Tidak mikir basah. Kucing nekat: loncat dari lemari tinggi 2 meter demi ngincer cicak. Tidak mikir jatuh. Dua-duanya ngajarin manusia: hidup itu berani + konyol. Bedanya: anjing nekat buat kamu. Kucing nekat buat dirinya sendiri. Dan kita tetap tepuk tangan.
Pilih anjing = kamu pilih dicintai tanpa syarat. Pilih kucing = kamu pilih dicintai dengan syarat "jangan maksa".
Tidak ada yang lebih baik. Yang ada cuma yang lebih "kamu". Budaya pelihara hewan domestik itu sebenarnya manusia sedang mencari versi terbaik dari dirinya: mau jadi orang yang setia, apa orang yang bebas.
Dan hebatnya: kucing sama anjing Tidak pernah debat. Mereka cuma tidur bareng di sofa. Yang debat kita manusia.

Komentar