Jumat, 05 Juni 2026 | 23:51
COMMUNITY

TRAMP 51 Tahun, Sejarah Panjang Pendakian dan Pengabdian Nusantara

TRAMP 51 Tahun, Sejarah Panjang Pendakian dan Pengabdian Nusantara
Flyer Dirgahayu TRAMP (Dok Abdan)

ASKARA - Memperingati hari jadi ke-51 TRAMP yang jatuh pada 5 Juni 2026, pendiri TRAMP Rolando Edmond mengenang perjalanan panjang organisasi pecinta alam tersebut sejak pertama kali berdiri pada 5 Juni 1975 hingga berkembang menjadi salah satu komunitas petualangan dan pendidikan karakter yang dikenal luas di Indonesia.

Dalam catatan refleksinya, Rolando mengungkapkan bahwa TRAMP lahir dari sebuah mesin tik sederhana yang digunakannya untuk menyusun Anggaran Dasar organisasi bersama para pendiri lainnya, yakni Harsono, Sutarjo, Iskandar Akbar, Yohanes Charly, dan sejumlah rekan seperjuangan.

"Pada 5 Juni 1975, dengan modal mesin tik jadul, kami menyusun Anggaran Dasar organisasi yang kemudian menjadi fondasi lahirnya TRAMP," ujar Rolando di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, cikal bakal TRAMP sebenarnya bermula dari komunitas pelajar SMA Negeri 6 Bandung yang menggunakan nama Association Crosscountry Club dengan simbol burung walet hitam. Namun perjalanan organisasi sempat terhenti setelah terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa seorang anggota saat latihan rappelling di kawasan Dago Pakar, Bandung.

Rolando kemudian membawa semangat TRAMP ke Jakarta dan mulai mengaktifkan kembali kegiatan organisasi bersama sejumlah sahabatnya, antara lain Dondy Rahardjo dan Jeffrey "Badak". Sejak 1975, kawasan Klapa Nunggal yang berada di bawah pembinaan Rindam Jaya menjadi salah satu pusat latihan utama TRAMP.

Dari sana lahir berbagai program legendaris yang kemudian menjadi identitas organisasi, seperti Lang Lang Buana, Diksar Chandradimuka, Kebut Gunung, Arung Gelombang, hingga Long March Merdeka atau Mati.

Rolando menjelaskan, program Lang Lang Buana dirancang sebagai sarana pembelajaran bagi anggota untuk menjelajahi berbagai wilayah Indonesia guna membangun wawasan kebangsaan dan kemandirian.

"Semangatnya adalah mengenal Indonesia secara langsung. Karena itu setiap anggota didorong untuk menjelajahi Nusantara," katanya.

Perjalanan panjang TRAMP juga tidak lepas dari berbagai pengorbanan. Rolando mengenang sejumlah anggota yang gugur dalam kegiatan organisasi, termasuk saat pendakian Gunung Pangrango dan pelaksanaan Long March Merdeka atau Mati.

"Perjuangan mereka menjadi bagian dari sejarah yang tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus," ujarnya.

Selain aktif dalam kegiatan pendidikan dan petualangan, TRAMP juga mencatat berbagai pencapaian ekspedisi nasional. Organisasi ini telah mengirimkan anggotanya mendaki tujuh puncak tertinggi di Indonesia, termasuk keterlibatan dalam ekspedisi ke Carstensz Pyramid yang dipimpin langsung oleh Rolando bersama pendaki internasional.

Sebagai bentuk legalitas organisasi, Rolando mengatakan TRAMP kini telah berbadan hukum lengkap dengan akta notaris, NPWP, Nomor Induk Berusaha (NIB), dan berbagai dokumen administrasi lainnya sesuai ketentuan perundang-undangan.

Ia juga menegaskan bahwa nama dan identitas TRAMP telah mendapatkan perlindungan hak cipta yang terdaftar atas namanya sebagai pencipta.

Pada momentum ulang tahun ke-51 ini, Rolando mengajak seluruh anggota lintas generasi untuk menjaga persaudaraan dan menghindari perpecahan.

"Saya mengimbau seluruh anggota jangan sombong dan arogan. Jaga silaturahmi antara senior yang sudah berusia 70 tahun lebih dengan anggota muda. Bersatulah untuk menciptakan prestasi," pesannya.

Rolando mengaku bangga melihat banyak alumni TRAMP yang kini berkiprah sebagai perwira tinggi TNI, pejabat pemerintahan, profesional, maupun pemimpin di berbagai bidang.

Di akhir pesannya, ia kembali mengingatkan semboyan yang selama puluhan tahun menjadi ruh organisasi tersebut.

"Ganyang mental tempe, Tabah Sampai Akhir," tegas Rolando Edmond.

Peringatan HUT ke-51 TRAMP tahun ini sekaligus menjadi momen penghormatan bagi para pendiri, senior, dan anggota yang telah berpulang, serta refleksi atas perjalanan panjang organisasi dalam membentuk karakter, jiwa petualang, dan semangat kebangsaan bagi generasi muda Indonesia.

 

Komentar