USD Tembus Rp18.000
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Breaking news: Dolar AS tembus Rp18.000! Netizen langsung panik, emak-emak buka kalkulator, bapak-bapak mulai ngitung ongkos haji. Tapi tunggu dulu. Tarik napas. Seduh teh anget. Karena ada fakta yang selama ini kita lupa: tukang sayur di pasar nggak jual kangkung pakai dolar.
Ya, Rp18.000 itu ambang batas angka yang bikin jantung copot. Tapi beras, minyak, telur, cabe, semua transaksi di warung Bu RT tetap pakai rupiah. Kasir Alfamart dan Indomaret juga nggak tiba-tiba pasang tulisan “Harga naik, bayar pakai greenback ya!”. Belum.
1. Gaji kita rupiah, bukan dolar. Kecuali kerja di Wall Street sambil ngopi di New York City, maka gaji bulanan tetap masuk rekening dalam pecahan Soekarno-Hatta. Yang naik itu harga barang impor: obat farmasik, iPhone, Tesla, Netflix. Sementara Indomie tetap Indomie. Harga naik? Iya, tapi karena ongkos distribusi, bukan karena kita wajib bayar pakai dolar.
2. Sembako nggak impor semua. Beras Cianjur nggak naik kapal dari Texas. Cabai Cirebon nggak transit dulu di Chicago. Petani kita nanem pakai keringat, pupuk subsidi, dan doa. Jadi kalau panik gara-gara dolar, sama aja panik karena harga bitcoin turun padahal kita nggak punya bitcoin.
3. Panik itu pajak tambahan. Panik bikin borong. Borong bikin harga naik beneran. Naik beneran bikin panik lagi. Ini lingkaran setan yang lebih bahaya dari kurs dolar. Makanya pemerintah, ekonom, sampai tukang bakso langganan sepakat bahwa tenang itu ibadah mulia .
Di tengah kemelut hiruk-pikuk kurs, penguasa harus menjadi teladan di gugus terdepan dengan menghentikan hobi kunjungan luar negeri. Kecuali Menlu, karena tugasnya memang diplomasi keliling dunia. DPR juga perlu mengendalikan hawa nafsu studi banding ke luar negeri, sebab dapil mereka berada di dalam negeri. Kalau rakyat disuruh hemat dan tenang, maka yang di atas wajib kasih contoh dulu. Ngirit anggaran, fokus beresin dapur sendiri. Baru rakyat makin yakin: “Oh, kita senasib sepenanggungan”. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Nggak usah panik. Yang kerja ya kerja. Yang dagang ya dagang. Yang gajinya UMR ya tetap prioritasin kebutuhan pokok, bukan gadget baru. Kalau mau jaga-jaga, beli rupiah: nabung, bayar utang, kurangi jajan nggak penting. Itu lebih efektif daripada nge-stalk kurs tiap 5 menit. Dolar naik turun itu normal. Dari Rp10.000, Rp15.000, sekarang Rp18.000. Besok bisa turun maupun naik lagi. Di atas langit masih ada langit maka di atas 18.000 masih ada 19.000 lalu masih ada 20.000 dan masih ada selanjutnya. Tapi warung Madura tetap buka 24 jam. Itu yang pasti.
Jadi kesimpulannya: USD boleh tembus langit, tapi harga kangkung di pasar tetap pakai bahasa rupiah. Selama kita makan nasi, bukan makan dolar, rakyat nggak perlu drama Korea. Cukup drama sinetron Indonesia jam 7 malam.
Tenang aja! Dompet kita isinya rupiah. Paniknya simpan buat kuota habis aja.
MERDEKA!

Komentar