Feromon Sebagai Daya Survival
Oleh: Jaya Suprana
ASKARA - Feromon merupakan jenis zat kimiawi yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar sesama jenis makhluk hidup. Pada sebagian besar mamalia darat, feromon dideteksi oleh epitel olfaktorius pada organ vomeronasal dan diproses oleh berbagai struktur hilir, termasuk amigdala medial dan hipotalamus, untuk mengatur perilaku yang termotivasi serta respons endokrin.
Sementara ligan bioaktif belum diidentifikasi, telah terkumpul bukti bahwa bau badan manusia memberikan berbagai efek feromonal pada para penerimanya, termasuk memicu respons perilaku bawaan naluriah, memodulasi kadar endokrin, memberi sinyal informasi sosial, serta memengaruhi suasana emosional dan kognisi.
Meski saya warga Indonesia yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kebudayaan Jawa, mohon dimaafkan bahwa saya tidak selalu patuh pada kearifan Jawa ojo gumunan. Mohon dimaafkan, saya tidak pernah mampu berhenti merasa gumun tatkala menyaksikan keajaiban yang terjadi di alam semesta ini, termasuk kemampuan satwa untuk bertahan hidup di lingkungan alam yang niscaya penuh ancaman marabahaya.
Bau yang dikeluarkan oleh serangga pada saat merasa terancam predator sering disebut sebagai feromon, yang ada pula menyebutnya sebagai defensio chemical atau sekresi defensif. Beberapa contoh serangga yang mengeluarkan feromon pada saat merasa terancam atau sebagai identitas kelompok antara lain adalah semut dalam bentuk zat asam formik, kumbang dalam bentuk zat benzoquinone, kecoak dalam bentuk sekresi defensif yang berbeda-beda tergantung jenisnya, atau kalajengking dengan bau asam sekaligus racun mematikan.
Walang sangit (Leptocorisa acuta) adalah serangga yang terkenal karena kemampuannya mengeluarkan feromon yang baunya tergolong sedap bahkan sexy bagi sesama walang sangit. Di sisi lain, bau tersebut tergolong tidak sedap bahkan menjijikkan bagi manusia maupun para predator.
Ketika merasa terancam atau terganggu, walang sangit secara refleks naluriah mengeluarkan cairan feromon berbau menyengat dari kelenjar defensif di tubuhnya. Bau menyengat ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan untuk mengusir predator sekaligus secara seksual memikat sesama walang sangit yang berbeda jenis kelamin.
Walang sangit sering ditemukan di sawah dan merupakan hama tanaman padi. Bau khas yang dikeluarkan oleh walang sangit memang tajam menyengat sehingga tidak disukai banyak orang.
Namun, di beberapa daerah Nusantara, ternyata walang sangit justru digunakan sebagai bahan penyedap masakan, sama fungsinya dengan terasi. Semisal di beberapa daerah NTT, walang sangit diolah dengan cara khusus sebagai ramuan hidangan tradisional setempat yang lezat dan unik sehingga digemari masyarakat setempat maupun para wisatawan kuliner.
Penggunaan walang sangit sebagai penyedap masakan menunjukkan daya kreativitas dan adaptasi masyarakat setempat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
Selain itu, walang sangit juga merupakan fakta tak terbantahkan bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia semarak terbingkai dalam suasana Bhinneka Tunggal Ika, mengejawantahkan semboyan "Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju."
MERDEKA!

Komentar