Merawat Indonesia dari Ambon: Ketika Persaudaraan Menjadi Benteng Bangsa
ASKARA - Di tengah derasnya arus polarisasi, disinformasi, dan berbagai tantangan sosial yang menguji persatuan bangsa, pesan yang disampaikan Wakil Uskup Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), Romo Kolonel Purnawirawan (Sus) Yos Bintoro, Pr, saat berkunjung ke Kota Ambon pada Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar silaturahmi kelembagaan.
Pesan itu sederhana, namun sangat fundamental: Indonesia hanya akan kuat apabila pemerintah, TNI, Polri, gereja, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat berjalan bersama menjaga persatuan dan kemanusiaan.
Pernyataan tersebut terasa relevan ketika disampaikan di Ambon. Kota ini bukan sekadar ibu kota Provinsi Maluku. Ambon adalah laboratorium hidup tentang bagaimana sebuah masyarakat pernah mengalami luka konflik yang mendalam, namun kemudian mampu bangkit, berdamai, dan membangun kembali persaudaraan di atas keberagaman.
Pengalaman Ambon mengajarkan bahwa perdamaian tidak lahir dari kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Perdamaian lahir ketika semua pihak menempatkan kemanusiaan di atas perbedaan identitas.
Karena itulah, ketika Romo Yos mengatakan bahwa nilai kemanusiaan harus ditempatkan di atas segala perbedaan, sesungguhnya ia sedang mengingatkan kembali esensi Pancasila yang menjadi fondasi bangsa ini.
Sila pertama mengajarkan penghormatan terhadap keyakinan. Sila kedua menempatkan kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai landasan kehidupan bersama. Sila ketiga menegaskan pentingnya persatuan. Ketiga sila tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Di era digital saat ini, ancaman terhadap persatuan sering kali tidak lagi datang dalam bentuk konflik fisik, melainkan melalui ujaran kebencian, provokasi identitas, fanatisme sempit, hingga penyebaran informasi yang memecah belah masyarakat. Dalam kondisi seperti itu, kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Kehadiran OCI yang selama ini dikenal memberikan pelayanan rohani kepada anggota TNI dan Polri juga menunjukkan bahwa tugas menjaga bangsa tidak hanya dilakukan melalui kekuatan pertahanan dan keamanan. Ada dimensi moral dan spiritual yang sama pentingnya dalam membangun Indonesia yang damai.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki senjata canggih atau ekonomi besar. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
Karena itu, komitmen Pemerintah Kota Ambon yang disampaikan Wali Kota Bodewin M. Wattimena untuk terus merawat toleransi dan kebersamaan patut diapresiasi. Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan karakter, moral, dan solidaritas sosial jauh lebih menentukan masa depan bangsa.
Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog dibanding ruang pertengkaran. Membutuhkan lebih banyak jembatan persaudaraan dibanding tembok pemisah. Membutuhkan lebih banyak teladan yang mengajak masyarakat saling merangkul dibanding saling mencurigai.
Dari Ambon, sebuah pesan penting kembali bergema: persatuan bukan warisan yang dapat dinikmati selamanya tanpa usaha. Persatuan harus dirawat setiap hari, melalui penghormatan terhadap sesama, kerja sama lintas sektor, dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.
Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini mampu melewati berbagai ujian ketika seluruh elemen bersatu. Dan masa depan Indonesia akan tetap terjaga selama semangat persaudaraan itu terus hidup dalam hati setiap anak bangsa.

Komentar