Rabu, 22 Juli 2026 | 04:17
NEWS

Romo Yos Bintoro Jalani Sabatical Journey di Maluku

Romo Yos Bintoro Jalani Sabatical Journey di Maluku
Romo Yos Bintoro, Pr tiba di Bandara Pattimura untuk memulai perjalanan Sabatical Journey di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Rabu (27/5/2026). (Dok OCI)

ASKARA - Romo Yos Bintoro, Pr memulai perjalanan Sabatical Journey di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, Rabu (27/5/2026). Setibanya di Bandara Pattimura, Ambon, ia disambut unsur TNI dan Polri sebagai bentuk penghormatan atas perjalanan spiritual dan kebangsaan yang akan dijalaninya selama hampir tiga bulan ke depan.

Penyambutan dilakukan dengan pengalungan slayer tenun khas Maluku oleh AKP Richard. Hadir pula tim penyambutan unsur TNI-Polri yang dikoordinatori Rm Angky Kandunmas, Pr selaku Pasyanmilpol (Pastor Pelayan Militer dan Kepolisian RI) Keuskupan Amboina.

Romo Yos Bintoro diketahui menjabat sebagai Wakil Uskup untuk umat Katolik di lingkungan TNI-Polri atau Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI). Dalam pelayanan pastoralnya, ia aktif mendampingi umat Katolik di lingkungan pertahanan dan keamanan negara, sekaligus membangun semangat kebangsaan dan nilai-nilai perdamaian.

Perjalanan Sabatical Journey tersebut berlangsung mulai 27 Mei hingga 13 Agustus 2026 dengan menjelajahi sejumlah wilayah di Provinsi Maluku dan Maluku Utara, di antaranya Kepulauan Tanimbar, Kei, Banda Neira, Pulau Buru, Seram, Ternate, Tidore, Halmahera hingga Morotai.

Dalam proposal perjalanannya, Romo Yos menjelaskan bahwa perjalanan ini merupakan bentuk syukur atas 30 tahun imamat yang dijalaninya, sekaligus upaya memperdalam spiritualitas dan pemaknaan panggilan hidup sebagai imam yang melayani umat di lingkungan TNI dan Polri.

Mengusung motto pelayanan Per Patriam ad Ecclesiam — melalui kecintaan pada Ibu Pertiwi menghadirkan penghayatan hidup menggereja — Romo Yos ingin menelusuri jejak sejarah iman Katolik, budaya damai, serta warisan pertahanan di kawasan timur Indonesia.

“Maluku dan Maluku Utara menjadi pilihan hati cinta tanah air sekaligus menggapai kematangan hidup rohani,” tulisnya dalam proposal kegiatan.

Selain melakukan pelayanan pastoral dan live in di berbagai paroki, perjalanan ini juga diisi observasi, wawancara, dan diskusi ilmiah bersama tokoh agama, masyarakat adat, pemerintah daerah, akademisi, hingga unsur TNI-Polri mengenai nilai perdamaian, wawasan kebangsaan, dan warisan pertahanan (defense heritage).

Romo Yos juga dijadwalkan memberikan retret bagi para pastor dan rohaniwan/wati di Tobelo, Halmahera, serta ceramah bagi Orang Muda Katolik (OMK) bertema spiritualitas Kristiani berbasis kebangsaan.

Salah satu agenda penting perjalanan tersebut ialah mengikuti perayaan 500 tahun masuknya agama Katolik di Nusantara yang dipusatkan di Tobelo, Maluku Utara.

Menurut Romo Yos, warisan pertahanan tidak hanya berkaitan dengan aspek militer, tetapi juga menyangkut identitas bangsa, budaya damai, solidaritas sosial, dan nilai spiritual yang diwariskan masyarakat Maluku dari generasi ke generasi.

“Warisan pertahanan merupakan aset strategis non-militer sekaligus kekuatan spiritual pertahanan rakyat semesta,” ungkapnya.

Perjalanan ini nantinya juga akan menjadi bahan penyusunan buku populer semi ilmiah mengenai spiritualitas, sejarah, perdamaian, dan peran masyarakat Maluku dalam konteks kebangsaan Indonesia.

Menutup proposalnya, Romo Yos mengutip Mazmur 97:1, “Hendaklah Pulau-pulau Bersukacita,” sebagai doa dan harapan agar perjalanan iman di bumi rempah itu semakin memperkuat persaudaraan, cinta tanah air, dan pengabdian kepada Tuhan serta bangsa.

 

Komentar