Di Konferensi 2nd INFLECTION 2026, Prof. Rokhmin Dahuri: Ekonomi Biru dan Bioteknologi Laut Jadi Fondasi Peradaban Masa Depan
ASKARA – Di tengah ancaman krisis multidimensi yang melanda dunia, laut dan pesisir disebut sebagai kunci peradaban berkelanjutan di masa depan. Hal itu ditegaskan Anggota DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri, Ph.D dalam pidato utama pada Konferensi Internasional Kedua tentang Ekonomi Biru dan Inovasi Tekno-Sosio-Lingkungan (2nd INFLECTION 2026), Rabu (20/5).
Konferensi 2nd INFLECTION 2026 ini dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Prof. Luky Adrianto selaku Ketua Lembaga Penelitian Internasional untuk Maritim, Kelautan, dan Perikanan – IPB University dan Prof. Yonvitner selaku Ketua PKSPL – IPB University.
Mengangkat tema “Membuka Potensi Ekonomi Biru: Bioteknologi Kelautan dan Industri Hilir”, Prof. Rokhmin memaparkan bahwa umat manusia kini menghadapi tantangan global yang kompleks: mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, kerawanan pangan, krisis energi, pencemaran laut, hingga ketegangan geopolitik dan kesenjangan ekonomi yang kian melebar.
“Pada saat yang sama, populasi dunia diproyeksikan mencapai hampir 10 miliar pada tahun 2050. Ini akan meningkatkan permintaan global secara signifikan terhadap pangan, obat-obatan, energi, air, bahan konstruksi, bahan baku industri, serta barang dan jasa lainnya,” ujar Prof. Rokhmin.

Laut Bukan Sekadar Sumber Daya, Tapi Fondasi Peradaban
Dalam forum yang diselenggarakan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Lembaga Penelitian Internasional untuk Maritim, Kelautan dan Perikanan-IPB University (PKSPL/LRI i-MAR, IPB University) tersebut, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa paradigma ekonomi biru menawarkan jalan transformatif.
“Dalam konteks ini, laut, samudra, dan pesisir muncul bukan sekadar sebagai batas terdepan sumber daya alam, tetapi sebagai fondasi peradaban berkelanjutan di masa depan,” kata Pendiri dan Ilmuwan Senior PKSPL – IPB University itu.
Menurutnya, ekonomi biru memungkinkan pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, inovasi teknologi, dan inklusi sosial hidup berdampingan secara harmonis.
Potensi Ekonomi Laut Tembus US$5 Triliun pada 2050
Mengutip data Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD, Prof. Rokhmin menyebut ekonomi kelautan saat ini menyumbang lebih dari US$2,5 triliun per tahun bagi perekonomian global. Angka itu diproyeksikan melampaui US$5 triliun pada tahun 2050 jika dikelola secara berkelanjutan.
Sorotan khusus diberikan pada bioteknologi kelautan. “Bioteknologi kelautan saja diproyeksikan menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam bioekonomi global,” terang Guru Besar Emeritus dalam Pembangunan Berkelanjutan di Mokpo National University, Republik Korea tersebut.
Potensinya sangat luas, mulai dari farmasi, kosmetik, nutrasetikal, pangan fungsional, bioenergi dari alga laut, biomaterial, biofertilizer, hingga bioindustri lainnya.
Sebagai negara kepulauan terbesar dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia disebut memiliki keunggulan komparatif luar biasa: dari keanekaragaman hayati laut, sumber daya perikanan, ekosistem mangrove dan terumbu karang, hingga jalur laut strategis.
Namun, ia mengingatkan bahwa ekonomi kelautan Indonesia masih didominasi ekspor bahan mentah dengan nilai tambah terbatas. “Banyak sumber daya pesisir dan laut diekstraksi tetapi tidak diolah optimal menjadi produk industri bernilai tinggi. Ini mengakibatkan produktivitas rendah dan daya saing industri yang lemah,” jelasnya.
Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah kelautan jika ingin bertahan di tengah krisis global. Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, ekonomi biru bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Keunggulan Besar, Tapi Masih Jual Bahan Mentah
Menurutnya, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan garis pantai sepanjang lebih dari 108.000 kilometer — terpanjang kedua di dunia setelah Kanada — serta keanekaragaman hayati laut yang luar biasa.
“Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang sangat besar: keanekaragaman hayati laut yang mega; sumber daya perikanan dan akuakultur yang luas; ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang; sumber daya genetik laut tropis; alur laut strategis dan konektivitas maritim; serta populasi pesisir yang besar dan warisan budaya bahari,” paparnya.
Namun, ia mengingatkan realitas pahit yang masih terjadi. “Ekonomi kelautan kita masih sangat bergantung pada ekspor bahan mentah dengan nilai tambah yang terbatas. Banyak sumber daya pesisir dan laut yang diekstraksi tetapi tidak diolah secara optimal menjadi produk industri bernilai tinggi,” tegas Prof. Rokhmin.
Tantangan struktural itu, lanjutnya, berakibat pada produktivitas rendah, penguasaan teknologi yang terbatas, dan daya saing industri yang lemah.
Dari Ekstraktif ke Regeneratif
Karena itu, Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Jerman itu mendesak adanya pergeseran arah pembangunan pesisir dan kelautan nasional. “Harus bergeser dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi regeneratif; ekonomi berbasis sumber daya ke ekonomi berbasis inovasi; ekspor komoditas primer ke industrialisasi hilir; dan produksi bernilai tambah rendah ke bioindustri bernilai tinggi,” ujarnya.
Bioteknologi Laut: Jembatan Ilmu ke Industri
Pada kesempatan itu, Prof. Rokhmin menyoroti peran strategis bioteknologi kelautan sebagai jembatan antara ilmu kelautan dan transformasi industri.
“Bioteknologi kelautan adalah penerapan ilmu biologi, rekayasa hayati, dan teknologi canggih termasuk Big Data, AI, IoT, dan Blockchain dalam memanfaatkan organisme laut dan sumber daya genetik laut untuk menghasilkan produk bernilai dan inovasi industri,” jelasnya.
Ia bahkan mengutip data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Korea tahun 2002. “Potensi ekonomi Industri Bioteknologi Kelautan sekitar empat kali lipat dari ukuran pasar semikonduktor atau industri TI saat ini,” ungkap Guru Besar Emeritus dalam Pembangunan Berkelanjutan di Mokpo National University, Republik Korea tersebut.
Prof. Rokhmin juga menyebut bahwa laut dan pesisir bukan sekadar sumber daya, melainkan fondasi peradaban berkelanjutan. Dengan paradigma ekonomi biru, pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, inovasi teknologi, dan inklusi sosial bisa berjalan beriringan.

Potensi penerapan Bioteknologi Kelautan sangatlah luas.
Pertama, Ketahanan Pangan
Lautan, samudra, dan pesisir kita dapat menjadi lumbung pangan masa depan dunia. Bioteknologi kelautan memungkinkan pengembangan: spesies akuakultur unggul; ikan, udang, kepiting, moluska, dan biota laut lainnya yang bebas penyakit, tahan penyakit, dan cepat tumbuh; produk pangan laut berprotein tinggi; pangan fungsional dan nutrasetikal; inovasi pangan berbasis rumput laut; dan teknologi pakan akuakultur berkelanjutan.
Rumput laut, misalnya, memiliki potensi luar biasa tidak hanya untuk produk pangan tetapi juga untuk hidrokoloid, senyawa bioaktif, dan sumber protein alternatif. Indonesia adalah produsen rumput laut kappa dan agarosa terbesar di dunia, dengan volume produksi sekitar 10 juta metrik ton per tahun, namun sebagian besar ekspor masih dalam bentuk mentah atau setengah jadi.
Melalui industrialisasi hilir, rumput laut dapat menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dari berbagai produk pangan akhir, sekaligus menciptakan lapangan kerja layak, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan menghasilkan efek pengganda ekonomi yang luas.
Kedua, Ketahanan Farmasi
Laut dan samudra kita adalah reservoir senyawa bioaktif terbesar di Bumi. Banyak organisme laut mengandung sifat antibakteri, antivirus, antikanker, anti-inflamasi, antioksidan, dan antimikroba dengan potensi farmasi yang sangat besar. Invertebrata laut, spons, alga, mikroorganisme, moluska, dan bakteri yang berasosiasi dengan karang telah menjadi sumber penting untuk penemuan obat modern.
Secara global, produk farmasi yang berasal dari laut terus tumbuh pesat. Sayangnya, banyak negara berkembang termasuk Indonesia, Filipina, dan Negara Berkembang Pulau Kecil di Pasifik, Atlantik, dan Samudra Hindia yang kaya akan keanekaragaman hayati masih bertindak terutama sebagai pemasok bahan mentah daripada pemilik teknologi atau pemegang paten. "Oleh karena itu, penguatan kapasitas riset, inovasi bioteknologi, sistem kekayaan intelektual, dan kolaborasi universitas-industri menjadi sangat penting," tegasnya.
Ketiga, Ketahanan Bioenergi
Transisi energi global menuju pembangunan rendah karbon membutuhkan sumber energi terbarukan dan berkelanjutan. Biomassa laut, terutama mikro-alga dan rumput laut, memiliki potensi kuat untuk:
bioetanol; biodiesel; biogas; biohidrogen; bahan bakar penerbangan berkelanjutan; dan sistem energi berbasis karbon biru. Dibandingkan dengan tanaman bioenergi terestrial, biomassa laut tidak bersaing langsung dengan lahan pertanian atau sumber daya air tawar. Hal ini menjadikan bioenergi laut sangat strategis dalam mendukung transisi energi berkelanjutan.
Keempat, Ketahanan Biomaterial
Revolusi industri masa depan akan semakin bergantung pada bahan yang dapat terurai secara hayati, terbarukan, dan ramah lingkungan. Organisme laut (sumber daya hayati laut) dapat menghasilkan: plastik biodegradable; biomaterial untuk aplikasi medis; kolagen laut; biopolimer; kemasan hayati; tekstil ramah lingkungan; serta bahan konstruksi dan industri hijau. Transisi ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan berbasis fosil dan memitigasi polusi plastik laut.
Untuk memanfaatkan peluang ini, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan, setidaknya ada tujuh agenda strategis yang harus diprioritaskan.
1. Penguatan Ekosistem Riset dan Inovasi Kelautan
Investasi dalam ilmu kelautan, laboratorium bioteknologi, penelitian genomik, bioprospeksi laut, dan pusat inovasi harus ditingkatkan secara signifikan. Universitas, lembaga penelitian, instansi pemerintah, dan industri harus bekerja secara kolaboratif dalam ekosistem inovasi yang terintegrasi.
2. Percepatan Industrialisasi Hilir
Hilirisasi industri adalah kunci untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing ekspor, penciptaan lapangan kerja, dan pendapatan nasional. Kita harus mendorong pengembangan: kawasan industri bioteknologi kelautan; pusat akuakultur dan pengolahan perikanan terpadu; industri hilir rumput laut; klaster farmasi laut; dan kilang-bio biru.
3. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Modal manusia adalah fondasi transformasi biru. Kita membutuhkan lebih banyak: ilmuwan kelautan; ahli bioteknologi; bioengineer; wirausaha kelautan; tenaga kerja pesisir terampil; serta talenta digital dan inovasi. Sistem pendidikan dan pelatihan vokasi harus selaras dengan industri ekonomi biru masa depan.
4. Penguatan Tata Kelola Kelautan Berkelanjutan
Pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan keberlanjutan ekologis. Laut yang sehat adalah modal utama ekonomi biru. Oleh karena itu, Pengelolaan Pesisir dan Laut Terpadu, perencanaan ruang laut, konservasi ekosistem, pengelolaan perikanan berkelanjutan, pengendalian pencemaran, ketahanan iklim harus menjadi komponen integral dari kebijakan pembangunan nasional.
5. Mendukung Pembangunan Pesisir yang Inklusif
Ekonomi biru harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, nelayan skala kecil, perempuan, pemuda, dan masyarakat adat. Oleh karena itu, transformasi ekonomi biru harus inklusif, adil, berkeadilan sosial, dan berkelanjutan secara lingkungan.
6. Peningkatan Investasi dan Pembiayaan
Transformasi ekonomi biru membutuhkan mekanisme pembiayaan inovatif, termasuk: obligasi biru; pembiayaan campuran; investasi ESG; pendanaan iklim; insentif ekonomi karbon; dan kemitraan publik-swasta yang berkelanjutan.
7. Penguatan Kolaborasi Internasional
Tidak ada negara yang dapat mengembangkan ekonomi biru sendirian. Oleh karena itu, kolaborasi global sangat dibutuhkan dalam banyak aspek, khususnya dalam: riset kelautan; transfer teknologi; akuakultur cerdas dan berkelanjutan; perikanan cerdas dan bertanggung jawab; tata kelola kelautan; karbon biru; konservasi laut; dan inovasi bioteknologi.

Ubah Biodiversitas Laut Jadi Industri Bernilai Tinggi
Persaingan ekonomi global di masa depan akan ditentukan oleh negara yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan keberlanjutan berbasis kelautan. “Ekonomi global masa depan akan semakin dibentuk oleh negara-negara yang mampu mengintegrasikan: ilmu pengetahuan; inovasi; keberlanjutan; transformasi industri; dan pembangunan berbasis kelautan,” ujar Prof. Rokhmin.
Menurutnya, negara-negara yang berhasil mengubah keanekaragaman hayati laut menjadi industri bernilai tinggi yang berkelanjutan akan menjadi pemimpin ekonomi masa depan.
Ekonomi Biru Bukan Sekadar Ikan dan Wisata
Ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini meluruskan pemahaman yang sempit soal ekonomi biru. “Oleh karena itu, ekonomi biru tidak boleh dipahami semata-mata sebagai perikanan atau pariwisata bahari. Ini adalah transformasi ekonomi komprehensif menuju peradaban kelautan yang berkelanjutan,” tuturnya.
Bagi Indonesia dan negara maritim lain, Prof. Rokhmin Dahuri menawarkan empat visi strategis ke depan:
1. Dari ekstraksi sumber daya ke ekonomi kelautan berbasis pengetahuan; 2. Dari ketergantungan komoditas ke kepemimpinan inovasi; 3. Dari degradasi lingkungan ke restorasi ekologis; dan 4. Dari produktivitas rendah ke industri berkelanjutan bernilai tinggi.
Bisa Jadi Pilar Ketahanan Pangan hingga Farmasi
Ia menegaskan, jika dikelola dengan baik, ekonomi biru dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, sumber lapangan kerja layak, pilar ketahanan pangan dan energi, pusat inovasi farmasi, fondasi keberlanjutan industri, serta jalan menuju kemakmuran yang inklusif dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Prof. Rokhmin menyebut Indonesia memiliki modal besar sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, namun masih terjebak pada ekspor bahan mentah bernilai tambah rendah. Solusinya, kata dia, adalah hilirisasi dan bioteknologi kelautan yang potensinya disebut empat kali lipat industri semikonduktor.
Laut Adalah Amanah, Bukan Sekadar Warisan
Menutup pidatonya di hadapan para akademisi, peneliti, dan pemimpin industri pada Konferensi Internasional Kedua tentang Ekonomi Biru dan Inovasi Tekno-Sosio-Lingkungan yang digelar PKSPL/LRI i-MAR IPB University itu, Prpf. Rokhmin mengajak semua pihak berkolaborasi.
“Marilah kita mengingat bahwa laut bukan sekadar warisan dari generasi sebelumnya, tetapi amanah yang harus kita jaga untuk generasi mendatang. Keberlanjutan umat manusia sangat bergantung pada keberlanjutan lautan kita,” kata Prof. Rokhmin.
“Oleh karena itu, marilah kita bekerja bersama—pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan mitra internasional—untuk membangun masa depan biru yang makmur, inklusif, inovatif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Komentar