Jejak Pabrik Gula Klampok dan Sejarah Panjang Wilayah Banjarnegara
ASKARA - Desa Klampok di Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menyimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan ekonomi, perkebunan tebu, hingga industri gula pada masa kolonial Belanda. Wilayah yang kini menjadi pusat aktivitas masyarakat itu dahulu dikenal sebagai kawasan strategis di selatan Sungai Serayu dan memiliki hubungan historis dengan Kabupaten Banyumas.
Berdasarkan penelusuran sejarah yang dihimpun R.Ngt. Arini Sanjaya SE, Desa Klampok memiliki luas wilayah yang terdiri atas 92 hektar tanah persawahan, 70 hektar perkebunan, 19 hektar tanah kering, serta 57 hektar kawasan permukiman dan fasilitas umum. Secara administratif, desa tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Purbalingga di sisi utara dan barat.
Saat ini Desa Klampok memiliki 14 Rukun Warga (RW) dan 46 Rukun Tangga (RT), yang menunjukkan perkembangan wilayah yang cukup pesat dibandingkan masa lampau ketika daerah tersebut masih berupa ladang dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit.
Pernah Masuk Wilayah Banyumas
Dalam catatan sejarah, Purwareja-Klampok dahulu merupakan distrik yang masuk wilayah Kabupaten Banyumas. Hal itu terjadi saat Karisidenan Banyumas dibentuk pada tahun 1831 dan membawahi lima kabupaten.
Keberadaan Klampok juga disebut dalam berbagai catatan sejarah penting di wilayah Banyumas dan Banjarnegara. Salah satunya berkaitan dengan banjir besar yang melanda Banyumas akibat meluapnya Sungai Serayu pada abad ke-19.
Dalam buku Sejarah Purbalingga karya R.Y. Suwarsono Sosrowardoyo disebutkan bahwa ketika banjir bandang terjadi akibat curah hujan tinggi secara terus menerus pada masa pemerintahan Bupati R. Cakranegara, bantuan beras dari wilayah Klampok dikirim menuju lokasi pengungsian di Kejawar.
Selain itu, dalam buku Sejarah Banjarnegara karya Drs. S. Adi Sarwono disebutkan bahwa pada masa Perang Diponegoro tahun 1825-1830 terdapat sejumlah prajurit yang berasal dari kawasan Kaliwiro, Tunggoro, Banjar, Mandiraja hingga Klampok. Fakta itu memperlihatkan bahwa wilayah Klampok sudah memiliki komunitas penduduk sejak awal abad ke-19.
Berdirinya Pabrik Gula Klampok
Perkembangan besar di wilayah Klampok mulai terlihat setelah berdirinya pabrik gula sekitar tahun 1889. Letaknya yang strategis membuat pemerintah kolonial Belanda menjadikan kawasan tersebut sebagai sentra perkebunan tebu.
Sebagian besar lahan di Klampok kala itu digunakan untuk perkebunan tebu. Aktivitas pengangkutan hasil panen dilakukan menggunakan lori kereta kecil yang melintasi jalur rel menuju pabrik gula.
Jalur tersebut dikenal masyarakat sebagai Jalan Gili Bak. Rel lori tebu itu membawa hasil perkebunan dari ladang menuju lokasi pabrik gula yang saat ini disebut berada di kawasan gudang semen di sebelah utara Lapangan Klampok.
Keberadaan rel lori tersebut diperkuat dengan peta peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang menunjukkan garis rel pengangkut tebu di wilayah Klampok.
Keterlibatan Bangsawan Jawa dan Saudagar Tionghoa
Penelusuran sejarah juga mengungkap keterlibatan keluarga bangsawan Jawa dalam industri gula di kawasan Banyumas dan Banjarnegara. Salah satu tokoh penting yang disebut memiliki hubungan dengan Pabrik Gula Klampok adalah R. Tedjo Utomo.
R. Tedjo Utomo merupakan putra R. Joko Saputra bin R. Mertadiwangsa bin Yudanegara III. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa R. Joko Saputra kemudian diangkat anak oleh saudagar Tionghoa bernama The Sam Kang dan diberi nama Tionghoa The Tjong Sing.
Istri R. Joko Saputra yakni R. Sompi Retnadewanti diketahui merupakan putri Bupati Banyumas Cakranegara I yang memimpin sekitar tahun 1832-1864.
Sementara itu, R. Tedjo Utomo kemudian juga memiliki nama Tionghoa The Soe Ging atau The Soe Khing untuk mendukung hubungan dagang dengan pemodal Tionghoa pada masa tersebut.
Bersama kakaknya, R. Yudo Atmojo yang juga dikenal dengan nama The Soe Wat, mereka dipercaya menjadi pemasok hasil tebu untuk Pabrik Gula KHOO & LIE di Sokaraja.
Dalam catatan keluarga, R. Yudo Atmojo bahkan disebut pernah menempati rumah pejabat pabrik gula di Sokaraja yang kini masih berdiri dan menjadi saksi sejarah industri gula era kolonial.
Jejak Sejarah yang Masih Tersisa
Hingga kini sejumlah bangunan dan dokumen kolonial terkait Pabrik Gula Klampok dan industri gula di Sokaraja masih dapat ditemukan. Arsip Belanda, dokumen KITLV, hingga foto-foto bangunan tua menjadi bukti bahwa wilayah Klampok memiliki peranan penting dalam sejarah ekonomi dan perkebunan di wilayah Banyumas Raya.
Meski belum ditemukan data pasti mengenai kapan Desa Klampok resmi berdiri, sejumlah sumber sejarah menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah dikenal sejak awal 1800-an dan memiliki hubungan erat dengan perjalanan sejarah Banyumas, Banjarnegara, hingga industri gula pada masa kolonial Belanda.
Penelusuran sejarah ini menjadi bagian penting untuk menjaga memori kolektif masyarakat sekaligus mengenalkan generasi muda terhadap jejak perkembangan wilayah Klampok yang pernah menjadi pusat aktivitas perkebunan tebu dan industri gula di Jawa Tengah.

Komentar