Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:16
NEWS

Safrizal: Bencana 2025 Ubah Bentang Alam Aceh

Safrizal: Bencana 2025 Ubah Bentang Alam Aceh
Ilustrasi bencana alam Aceh (Dok Askara)

ASKARA - Kepala Posko Wilayah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Aceh, Safrizal, menyebut bencana yang terjadi pada 26 November 2025 sebagai bencana super ekstrem yang mengubah bentangan alam Aceh secara signifikan.

Hal itu disampaikan Safrizal saat membuka Lokakarya Perumusan Visi Bersama tentang Pembangunan Selaras dengan Alam bertajuk Growth with Nature di Hotel The Pade, Banda Aceh, Senin (11/5/2026).

“Aceh terdampak hebat. Kita belum pernah menghitung dampak seluas ini, persiapan seluas ini menerjang daratan,” ujar Safrizal.

Menurutnya, bencana tersebut menyebabkan kerusakan serius pada Daerah Aliran Sungai (DAS), pendangkalan sungai, hingga perubahan bentang alam dan kehidupan masyarakat.

“Super ekstrem bencana Aceh, merusak DAS, pendangkalan dan terjadi perubahan bentangan alam dan kehidupan. Kita harus bisa petik pelajaran ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Safrizal mengingatkan bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga negara paling berisiko bencana di dunia setelah India dan Filipina. Karena itu, Satgas PRR Aceh berupaya mengintegrasikan berbagai program pemulihan yang telah berjalan, termasuk program Food Systems, Land Use, and Restoration (FOLUR) yang didukung United Nations Development Programme (UNDP).

“Satgas PRR menjahit program-program yang sudah ada sembari pengesahan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi,” jelasnya.

Safrizal menekankan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana harus melibatkan berbagai unsur, mulai dari teknokrat, akademisi, hingga tokoh adat. Menurutnya, kearifan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat.

“Melibatkan teknokratis, akademisi dan unsur adat. Local wisdom sudah ada, kita jaga alam, alam jaga kita. Tata ruang berbasis mitigasi, perlu regulasi kawasan lindung, perlu pengembangan percontohan ekonomi berbasis alam,” ujarnya.

Ia juga mendorong penguatan pendekatan adat dan program perhutanan sosial sebagai strategi jangka panjang dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana. Selain itu, dibutuhkan dukungan pembiayaan hijau dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan keberlanjutan program pemulihan.

“Tumbuh bersama alam. Tidak ada niat baik yang dikesampingkan Allah SWT. Ujian membawa hikmah. Acara ini akan menjadi gerakan nasional,” tegas Safrizal.

Dalam sambutannya, Safrizal menilai Aceh memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi bencana dan selalu menjadi pelopor dalam membangun ketangguhan masyarakat, mulai dari tsunami 2004 hingga bencana besar yang terjadi pada 2025.

“Aceh selalu menjadi pelopor ketangguhan bencana,” pungkasnya.

 

Komentar