Jejak W.R. Soepratman di Meester Cornelis Dinilai Masih Terlacak
ASKARA - Kawasan Meester Cornelis atau yang kini dikenal sebagai Jatinegara kembali menjadi sorotan dalam kajian sejarah kelahiran Wage Rudolf Soepratman. Pembina Yayasan Wage Rudolf Soepratman Meester Cornelis Jatinegara, dr. Dario Turk, Sp.OG, menilai kawasan sekitar Taman Benyamin Sueb merupakan representasi paling logis untuk menelusuri jejak kelahiran pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya tersebut.
Menurut dr. Dario Turk, pendekatan pencarian lokasi kelahiran W.R. Soepratman selama ini terlalu terpaku pada satu titik rumah, padahal struktur kota kolonial pada awal abad ke-20 jauh lebih kompleks dan berbentuk sistem ruang yang saling terhubung.
“Pertanyaan yang tepat bukan lagi di titik mana persis beliau lahir, tetapi di dalam sistem ruang seperti apa beliau dilahirkan,” ujar dr. Dario dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, pada awal 1900-an kawasan Meester Cornelis merupakan salah satu basis militer utama KNIL di luar pusat Batavia. Kawasan tersebut tidak hanya terdiri atas barak atau gedung militer, tetapi juga jaringan pendukung berupa jalur mobilisasi pasukan, kawasan hunian militer, area latihan hingga sistem logistik.
Dalam kajiannya, dr. Dario memadukan overlay peta kolonial tahun 1903, peta militer tahun 1935, serta peta modern tahun 2024 untuk menelusuri hubungan spasial kawasan Meester Cornelis dengan lokasi yang kini menjadi Taman Benyamin Sueb.
Ia menilai banyak pihak keliru memahami peta kolonial sebagai dokumentasi lengkap. Padahal, menurut pendekatan kartografi kritis, peta kolonial hanya menampilkan titik-titik tertentu yang dianggap penting oleh kekuasaan kolonial.
“Ketiadaan representasi pada peta bukan berarti ketiadaan fungsi. Banyak ruang sistem militer tidak tergambar secara detail, tetapi tetap aktif secara fungsional,” jelasnya.
Dr. Dario juga menyoroti fenomena survival bias dalam lanskap sejarah kolonial. Ia menjelaskan banyak tangsi atau barak KNIL dibangun menggunakan material kayu dan bambu sehingga hilang dari lanskap modern, sementara bangunan administratif berbahan batu atau beton masih bertahan hingga kini.
Karena itu, menurutnya, kawasan Taman Benyamin Sueb tidak diposisikan sebagai titik literal kelahiran W.R. Soepratman, melainkan sebagai “spatial proxy” atau representasi historis dari lingkungan tempat tokoh nasional tersebut dilahirkan.
Ia menyebut terdapat lima indikator yang membuat kawasan tersebut dianggap paling relevan, yakni kedekatan spasial dengan klaster militer inti KNIL, konektivitas dengan jalur rel dan Sungai Ciliwung, posisi dalam lanskap campuran militer-administratif, keberlanjutan fisik kawasan hingga saat ini, serta aksesibilitas publik untuk fungsi edukasi dan memorial.
“Tidak ada lokasi lain di kawasan ini yang memenuhi seluruh kriteria tersebut secara simultan,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Dario menepis anggapan bahwa penguatan narasi sejarah W.R. Soepratman di kawasan tersebut akan berbenturan dengan identitas budaya Betawi yang melekat pada nama Benyamin Sueb.
Menurutnya, justru terjadi integrasi dua lapisan sejarah dalam satu ruang, yakni lapisan kolonial sebagai kawasan militer KNIL tempat lahirnya anak seorang prajurit yang kelak menciptakan Indonesia Raya, dan lapisan modern sebagai pusat budaya Betawi melalui warisan Benyamin Sueb.
“Pendekatan ini bukan menghapus sejarah yang sudah ada, tetapi memperkaya narasi kawasan agar lebih utuh dan bermakna,” ungkapnya.
Dr. Dario menegaskan, rekonstruksi sejarah kawasan Meester Cornelis dilakukan bukan untuk mengklaim kepastian yang tidak bisa dibuktikan, melainkan mengembalikan memori ruang berdasarkan bukti spasial, peta multipel, dan analisis sistem sejarah perkotaan kolonial.
“Yang dipulihkan bukan sekadar lokasi, melainkan memori ruang tempat sejarah itu pernah terjadi,” tutupnya.

Komentar