Jumat, 19 Juni 2026 | 05:15
TRAVELLING

Pasar Triwindu Solo, Jejak Sejarah dalam Balutan Barang Antik

Pasar Triwindu Solo, Jejak Sejarah dalam Balutan Barang Antik
Suasana Pasar Triwindu Solo (Dok Askara)

ASKARA - Pasar Triwindu di Kota Surakarta, Jawa Tengah, menjadi salah satu destinasi yang menyimpan jejak sejarah sekaligus denyut budaya masa lampau. Berlokasi di kawasan Keprabon, tak jauh dari Pura Mangkunegaran, pasar ini dikenal sebagai pusat jual beli barang antik yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi.

Didirikan pada 1939 pada masa Mangkunegara VII, Pasar Triwindu awalnya dibangun sebagai penanda perjalanan kekuasaan sang raja. Kini, pasar tersebut menjelma menjadi ruang pertemuan antara sejarah, kolektor, dan wisatawan yang ingin menelusuri jejak masa lalu.

Di dalamnya, ratusan kios menawarkan beragam benda lawas, mulai dari uang kuno, keris, patung, topeng, hingga peralatan rumah tangga tempo dulu. Setiap barang tidak sekadar memiliki nilai ekonomis, tetapi juga menyimpan cerita dari masa yang berbeda.

Suasana pasar menghadirkan nuansa klasik yang khas. Lorong-lorongnya dipenuhi barang antik yang tertata rapat, menciptakan pengalaman seolah berjalan di antara fragmen waktu. Aktivitas tawar-menawar yang terjadi di setiap sudut kios menjadi bagian dari dinamika yang menghidupkan pasar ini.

Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Solo dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah hingga mancanegara. Mereka datang dengan beragam tujuan, mulai dari berburu koleksi, mencari barang unik, hingga sekadar menikmati atmosfer nostalgia.

Harga barang yang ditawarkan pun beragam, bergantung pada usia, kondisi, dan nilai historisnya. Dari yang terjangkau hingga bernilai tinggi, semuanya memiliki segmen pasar tersendiri.

Pasar Triwindu bukan sekadar ruang transaksi, melainkan juga ruang pelestarian budaya. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan zaman, warisan masa lalu tetap memiliki tempat dan makna dalam kehidupan masyarakat hari ini.

 

 

Komentar