Jumat, 19 Juni 2026 | 12:21
COMMUNITY

Siswi SMAN 8 Takengon Raih Juara II FLS3N, Puisi Soroti Krisis Lingkungan

Siswi SMAN 8 Takengon Raih Juara II FLS3N, Puisi Soroti Krisis Lingkungan
Dafina Al Alani bersama keluarga (Dok Mubarak)

ASKARA - Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Tengah, Muslim Ibrahim, menyerahkan penghargaan kepada Dafina Al Alani, siswi SMAN 8 Takengon, atas prestasinya meraih Juara II Lomba Cipta Puisi pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Aceh Tengah 2026.

Penyerahan penghargaan berlangsung di Takengon, Kamis (30/4/2026). Dafina berhasil menarik perhatian dewan juri melalui puisinya berjudul “Luka Tak Bersuara” yang mengangkat isu kerusakan lingkungan dan kritik sosial.

Muslim Ibrahim mengapresiasi capaian tersebut dan berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus berkarya di bidang seni dan sastra.

Apresiasi juga datang dari Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Baret Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Zam Zam Mubarak. Ia menilai karya Dafina mencerminkan kepedulian generasi muda terhadap kondisi lingkungan di Aceh.

“Puisi ananda Dafina ini luar biasa. Bahasanya puitis, tapi pesannya sangat kuat. Ini menunjukkan anak-anak Gayo tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan lingkungan,” ujarnya, Jumat (1/5).

Menurut Zam Zam, FLS3N bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang ekspresi bagi pelajar untuk menyuarakan nurani mereka terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitar.

Ia menegaskan pihaknya akan terus mendorong lahirnya talenta-talenta muda dari Aceh Tengah yang berani berkarya dan menyampaikan gagasan kritis.

“Ke depan, kita ingin lebih banyak generasi seperti Dafina yang mampu membawa pesan perubahan melalui karya,” katanya.

Puisi “Luka Tak Bersuara” sendiri menggambarkan kondisi alam Sumatra yang mengalami kerusakan akibat eksploitasi. Karya tersebut dinilai relevan dengan kondisi Aceh yang kerap menghadapi bencana hidrometeorologi, termasuk kerusakan hutan dan lahan produktif.

Dalam puisinya, Dafina menggambarkan hutan yang kian tergerus, sungai yang kehilangan kejernihan, serta alam yang “terluka” akibat ulah manusia. Kritik juga diarahkan kepada para pemangku kebijakan yang dinilai belum optimal dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Karya tersebut tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga inspirasi bagi berbagai pihak. Salah satunya mendorong inisiatif pembentukan program edukatif seperti “Sekolah Siaga Bencana” yang digagas untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda.

FLS3N merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk menjaring bakat siswa SMA/SMK di bidang seni dan sastra dari seluruh Indonesia.

Prestasi yang diraih Dafina diharapkan dapat menjadi pemicu lahirnya karya-karya kreatif lain dari pelajar Aceh, sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam menjaga lingkungan dan menyuarakan isu-isu penting melalui seni.

 

 

Komentar