Selasa, 21 Juli 2026 | 22:15
NEWS

Inflasi Aceh Tengah Tertinggi, Zam Zam Desak Pemulihan Lahan

Inflasi Aceh Tengah Tertinggi, Zam Zam Desak Pemulihan Lahan
Zam Zam Mubarak dan ilustrasi inflasi Aceh Tengah tertinggi (Dok Askara)

ASKARA - Kabupaten Aceh Tengah mencatat tekanan inflasi tertinggi di Provinsi Aceh pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi tahunan Aceh pada Maret 2026 mencapai 5,31 persen (year on year), sementara Aceh Tengah menembus 6,07 persen atau tertinggi di wilayah tersebut.

Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Bencana banjir dan longsor yang merusak infrastruktur jalan serta lahan produktif menyebabkan distribusi terganggu dan pasokan pangan lokal menurun drastis.

Kondisi ini mengingatkan pada situasi pasca Tsunami Aceh 2004, ketika inflasi melonjak hingga 36 persen pada 2005 akibat lumpuhnya sistem produksi dan distribusi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemulihan sektor produksi menjadi kunci utama pengendalian inflasi.

Menanggapi hal itu, Zam Zam menegaskan bahwa penanganan inflasi tidak cukup hanya melalui operasi pasar di tingkat hilir. Ia menilai akar persoalan berada pada sektor produksi yang terdampak langsung oleh bencana.

“Kita tidak bisa hanya mengendalikan harga di hilir. Akar persoalannya ada di produksi. Kalau lahan tidak segera dipulihkan, tekanan inflasi akan terus berulang,” ujar Zam Zam, Rabu (29/4).

Menurutnya, kerusakan lahan pertanian dan kebun kopi Arabika Gayo menjadi faktor utama penurunan pasokan. Dampaknya, petani mengalami gagal panen yang berujung pada kenaikan harga komoditas di pasar.

“Lahan rusak, petani gagal panen, pasokan turun, harga naik. Ini lingkaran yang harus diputus dari hulunya,” tegasnya.

Ia juga mendorong Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk segera mengambil langkah strategis berbasis pemulihan produksi, seperti rehabilitasi irigasi, pembukaan akses ke sentra pertanian, serta bantuan bibit dan alat produksi bagi petani.

Zam Zam menilai momentum ini harus dimanfaatkan dengan mengarahkan dana otonomi khusus (Otsus) dan dana rehabilitasi-rekonstruksi secara tepat sasaran ke sektor pertanian.

“Pulihkan produksi, maka harga akan stabil. Rakyat tidak boleh kalah dua kali: terkena bencana lalu dibebani harga mahal,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya koordinasi cepat antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan bencana dan dampak ekonominya. Menurutnya, Aceh Tengah perlu menjadi prioritas dalam alokasi anggaran penanganan bencana di Aceh.

Ia juga mengingatkan bahwa pemulihan ekonomi Aceh Tengah memiliki dampak strategis secara nasional, mengingat daerah tersebut merupakan salah satu penghasil kopi terbaik dunia.

“Mempercepat pemulihan Aceh Tengah berarti juga menjaga devisa negara. Ini bukan hanya soal daerah, tetapi kepentingan nasional,” pungkasnya.

 

 

Komentar