Rabu, 01 Juli 2026 | 12:19
LIFESTYLE

Kisah Pasien Om Piet, Perubahan Terjadi Lewat Terapi Pijatan

Kisah Pasien Om Piet, Perubahan Terjadi Lewat Terapi Pijatan
Ilustrasi Om Piet dan pasiennya (Dok Askara)

ASKARA - Terapis pijat berbasis titik tubuh, Pieter Dasion atau yang dikenal sebagai Om Piet, kembali membagikan pengalaman menangani pasien dengan berbagai kondisi kesehatan. Dalam catatannya, ia mengisahkan dua kasus yang disebutnya menunjukkan perubahan setelah menjalani terapi.

Om Piet menjelaskan, metode yang digunakannya berawal dari pemeriksaan melalui pijatan pada jari jemari tangan untuk mendeteksi kondisi organ tubuh. Setelah itu, terapi dilanjutkan dengan pijatan pada titik-titik tertentu di bagian tubuh seperti lengan, pundak, punggung, hingga area lain yang dianggap berkaitan dengan sistem saraf dan peredaran darah.

Salah satu pasien yang ditangani adalah Ria, perempuan berusia 42 tahun yang mengalami Turner Syndrome, kelainan genetik sejak lahir akibat gangguan kromosom. Kondisi tersebut membuat Ria mengalami gangguan pendengaran dan perkembangan fisik.

Pertemuan pertama dilakukan di kawasan Kemang Pratama pada 11 April 2026. Dalam sesi tersebut, Om Piet melakukan terapi dengan stimulasi titik-titik tertentu, termasuk area yang berkaitan dengan fungsi otak.

Menurut penuturannya, Ria menunjukkan respons setelah terapi berlangsung. Ia bahkan disebut mampu mendengar tanpa alat bantu, yang sebelumnya selalu digunakannya.

Dua pekan kemudian, Ria kembali menjalani terapi lanjutan. Keluarga pasien menyampaikan rasa syukur atas perubahan yang dirasakan, meski tetap akan melakukan pemeriksaan lanjutan secara medis.

Selain itu, Om Piet juga menangani Lara, perempuan 52 tahun yang sebelumnya dirujuk untuk operasi akibat dugaan adenomyosis yang menyebabkan perlengketan organ dalam tubuh.

Lara diketahui mengalami nyeri hebat sejak September 2025 hingga harus mengonsumsi obat pereda nyeri jenis morfin. Kondisi tersebut membuatnya sulit tidur dan beraktivitas.

Setelah menjalani terapi pertama di kawasan Pancoran, Lara melaporkan adanya perubahan kondisi, termasuk berkurangnya nyeri dan mulai bisa tidur lebih nyenyak. Dalam perkembangan berikutnya, ia mengaku tidak lagi mengonsumsi morfin.

Hasil pemeriksaan laboratorium yang ditunjukkan juga disebut berada dalam kondisi baik, termasuk fungsi ginjal dan hati.

Meski demikian, Om Piet menegaskan bahwa terapi yang dilakukannya merupakan upaya pendukung dan tidak menggantikan penanganan medis.

“Setiap perubahan tetap perlu dikonfirmasi oleh dokter. Kita berusaha membantu, selebihnya kembali pada proses medis dan kehendak Tuhan,” ujarnya, Minggu (26/4).

Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari pengalaman Om Piet dalam membantu sesama melalui terapi pijat, yang menurutnya berangkat dari niat berbagi dan kepedulian terhadap kesehatan orang lain.

 

 

Komentar