Minggu, 07 Juni 2026 | 21:06
NEWS

Negosiasi Memanas, Iran-AS Nyaris Damai Tapi Hormuz Membara Lagi

Negosiasi Memanas, Iran-AS Nyaris Damai Tapi Hormuz Membara Lagi
Ilustrasi situasi Selat Hormuz (Dok Gemini)

ASKARA - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan adanya kemajuan dalam negosiasi dengan Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri perang yang melibatkan Iran dengan AS dan Israel. Namun, ia menegaskan perbedaan mendasar masih menjadi hambatan serius menuju kesepakatan final.

Berbicara kepada televisi pemerintah, Ghalibaf mengungkapkan bahwa kedua pihak mulai memiliki pemahaman yang lebih realistis, meski masih terdapat “jarak besar” dalam sejumlah isu krusial.

“Ada beberapa hal yang kami pertahankan, dan mereka juga punya garis merah. Namun isu-isu itu mungkin hanya satu atau dua. Kami masih jauh dari pembahasan akhir,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap optimistis Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut dialog dengan Iran berjalan baik, meski ketegangan tetap tinggi di lapangan.

Sejumlah laporan menyebutkan, perbedaan utama masih berkisar pada ambisi nuklir Iran serta kendali atas Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.

Situasi semakin memanas setelah Iran kembali memperketat kontrol atas Selat Hormuz dengan menutup jalur tersebut. Teheran menyebut langkah itu sebagai respons atas blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, bahkan menyatakan angkatan laut Iran siap memberikan “kekalahan pahit baru” kepada musuhnya. Sementara itu, Trump menyebut tindakan Iran sebagai bentuk “pemerasan”, meski tetap memuji jalannya perundingan.

Di tengah dinamika tersebut, Pakistan berperan sebagai mediator dan dijadwalkan menjadi tuan rumah putaran kedua perundingan dalam waktu dekat. Putaran sebelumnya yang digelar pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan.

Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap kembali melakukan serangan militer jika tidak tercapai kesepakatan jangka panjang sebelum masa gencatan senjata berakhir pada Rabu mendatang.

Konflik antara Iran dengan AS dan Israel sendiri telah berlangsung sejak akhir Februari, ditandai dengan serangan militer yang kemudian dibalas dengan serangan rudal dan drone oleh Iran serta kelompok sekutunya di kawasan. Situasi ini terus memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

 

Komentar