Senin, 08 Juni 2026 | 06:23
NEWS

Pelaut NTT Soroti Laut sebagai Kunci Kedaulatan Ekonomi Nasional

Pelaut NTT Soroti Laut sebagai Kunci Kedaulatan Ekonomi Nasional
Pelaut senior asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Wilhelmus Lawe (Dok Askara)

ASKARA - Pelaut senior asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Marianus Wilhelmus Lawe, menegaskan, potensi laut di wilayah timur Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga menyangkut kedaulatan ekonomi bangsa.

Marianus yang kini bekerja di kawasan Selat Hormuz, menyampaikan bahwa laut merupakan sumber kehidupan sekaligus medan pengabdian bagi generasi muda NTT.

“Laut bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah sumber penghidupan dan peluang masa depan yang sangat besar bagi masyarakat,” ujarnya, Rabu (15/4).

Ia menjelaskan, pengalaman bekerja di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia tersebut membuka perspektif bahwa sektor maritim merupakan tulang punggung ekonomi global. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur vital distribusi energi dunia, tempat jutaan barel minyak mentah melintas setiap hari.

Menurutnya, bekerja di wilayah itu menuntut profesionalisme tinggi, mulai dari keterampilan teknis, kedisiplinan, hingga kesiapan menghadapi risiko keamanan dan dinamika geopolitik.

Namun di balik tantangan tersebut, Marianus melihat peluang besar bagi sumber daya manusia (SDM) Indonesia, khususnya dari NTT, untuk bersaing di tingkat internasional.

“Anak-anak muda NTT punya karakter pekerja keras dan daya tahan tinggi. Itu modal besar untuk masuk industri maritim global,” katanya.

Kendati demikian, ia menyoroti masih terbatasnya akses pendidikan dan pelatihan maritim di daerah. Banyak generasi muda harus keluar daerah dengan biaya tinggi untuk menempuh pendidikan pelayaran, yang kerap menjadi hambatan serius.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah menghadirkan institusi pendidikan tinggi maritim di NTT, serta membangun Balai Latihan Kerja (BLK) berstandar internasional guna meningkatkan kompetensi tenaga kerja.

Selain itu, Marianus juga menekankan pentingnya integrasi pengembangan sektor maritim di kawasan Indonesia timur, seperti Papua, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara, agar tercipta ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.

“Jika dikelola secara sinergis, kawasan timur bisa menjadi pusat pertumbuhan maritim baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan sektor ini akan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi daerah, termasuk melalui remitansi pelaut yang bekerja di luar negeri, peningkatan daya beli masyarakat, hingga berkembangnya infrastruktur dan layanan keuangan.

Lebih jauh, pengalaman bekerja di berbagai negara seperti Australia dan Singapura mempertegas keyakinannya bahwa dunia maritim adalah ruang tanpa batas bagi mereka yang memiliki kompetensi dan integritas.

“Laut tidak melihat asal-usul. Yang dihargai adalah kemampuan dan profesionalisme,” tegasnya.

Marianus pun menilai, NTT memiliki seluruh prasyarat alamiah untuk menjadi kekuatan maritim baru di Indonesia. Namun, hal itu membutuhkan komitmen kuat, investasi pada pengembangan SDM, serta visi jangka panjang yang konsisten.

“Kalau ini dilakukan, bukan mustahil NTT akan menjadi pemain penting dalam peta maritim nasional bahkan global,” pungkasnya.

 

 

Komentar