Selasa, 21 Juli 2026 | 22:19
NEWS

AS Klaim Lumpuhkan Militer Iran, Padahal Masih Berjaya

AS Klaim Lumpuhkan Militer Iran, Padahal Masih Berjaya
Ilustrasi Iran masih memiliki kekuatan militer (Dok Askara)

ASKARA - Pemerintah Amerika Serikat mengklaim telah melumpuhkan kemampuan militer Iran secara signifikan pasca operasi militer besar-besaran. Namun, sejumlah perkembangan di lapangan menunjukkan situasi belum sepenuhnya sesuai klaim tersebut.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa operasi militer bertajuk Operation Epic Fury selama 38 hari telah “menghancurkan total” basis industri pertahanan Iran.

“Kami berhasil melumpuhkan kemampuan mereka untuk memproduksi rudal dan persenjataan canggih,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon, Rabu (8/3).

Ia menambahkan, dengan menggunakan kurang dari 10 persen kekuatan tempur Amerika, pasukan AS mampu menyerang lebih dari 13.000 target, menghancurkan sekitar 80 persen sistem pertahanan udara Iran, serta melumpuhkan sebagian besar armada laut dan program rudal negara tersebut.

Pernyataan senada disampaikan Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, yang menyebut operasi tersebut telah memenuhi tiga target utama: menghancurkan kemampuan rudal balistik dan drone Iran, melumpuhkan angkatan laut, serta merusak industri pertahanan agar tidak dapat pulih dalam waktu dekat.

Namun di sisi lain, fakta di lapangan menunjukkan Iran masih mampu melancarkan serangan. Dalam beberapa hari terakhir, Teheran tetap menembakkan rudal dan drone ke wilayah regional, termasuk ke Israel serta negara-negara Teluk seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab.

Meski intensitas serangan menurun dari sekitar 90 rudal pada hari pertama perang menjadi 10–15 rudal per hari, kemampuan ofensif Iran dinilai belum sepenuhnya hilang.

Bahkan, laporan intelijen Israel menyebut Iran masih memiliki lebih dari 1.000 rudal balistik yang mampu menjangkau wilayah Israel, menunjukkan ancaman belum benar-benar berakhir.

Di tengah klaim kemenangan tersebut, AS juga menegaskan sikap keras terhadap program nuklir Iran. Hegseth menegaskan bahwa Teheran “tidak akan pernah” memiliki senjata nuklir, dan setiap material nuklir yang dianggap berbahaya akan dihilangkan.

Pernyataan ini sejalan dengan sikap Presiden Donald Trump yang menempatkan isu nuklir Iran sebagai garis merah kebijakan luar negeri AS.

Meski demikian, berlanjutnya serangan dari Iran menimbulkan pertanyaan di kalangan analis: apakah operasi militer tersebut benar-benar melumpuhkan Iran, atau justru membuka babak baru konflik berkepanjangan di kawasan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa meskipun klaim kemenangan telah disampaikan, realitas di lapangan masih menunjukkan dinamika konflik yang kompleks dan belum sepenuhnya mereda.

 

 

Komentar