Menegakkan Kedaulatan Petani Kopi di Lereng Gunung Raung
ASKARA - Jejak budidaya kopi di lereng Gunung Raung, Kecamatan Kalibaru, merupakan warisan panjang yang telah berakar sejak era kolonial Belanda pada abad ke-19. Wilayah ini dulunya merupakan pusat perkebunan besar (onderneming) yang dipilih karena kesuburan tanahnya, di mana stasiun kereta api lokal menjadi saksi bisu kejayaan pengiriman "emas hitam" ke pasar Eropa. Sejarah panjang ini kini menemukan momentum kebangkitannya melalui berdirinya Kelompok Tani (Poktan) Raung Sejati. Resmi dikonsolidasikan oleh para petani setempat pada 9 Oktober 2024, kelompok ini lahir dari kesadaran kolektif untuk menjaga kedaulatan petani kopi Kalibaru. Melalui platform digital Instagram @raungsejati, mereka aktif memperkenalkan dedikasi para petani dalam mengolah hasil bumi lereng Raung agar memiliki daya saing yang lebih luas di kancah nasional maupun internasional.
Kekuatan utama kopi dari wilayah ini terletak pada kondisi geografisnya yang istimewa, yakni berada di ketinggian 600 hingga 1.200 mdpl dengan topografi tanah vulkanis yang kaya unsur hara. Berada tepat di kaki Gunung Raung, tanaman kopi tumbuh subur dalam iklim mikro yang sejuk, yang memungkinkan petani mengelola keberagaman varietas secara spesifik. Di lahan menengah, Robusta Kalibaru menjadi primadona dengan karakter body tebal dan aroma cokelat yang dominan. Sementara di lahan tinggi, Raung Sejati mengembangkan varietas eksotis yang kian langka, yaitu Arabika Yellow Caturra. Varietas ini sangat unik karena buahnya berwarna kuning cerah saat matang, menghasilkan profil rasa yang kompleks dengan tingkat keasaman sitrus yang menyegarkan serta sensasi manis (sweetness) yang jauh lebih tinggi dibandingkan varietas merah pada umumnya.
Pesona Agrowisata: Gerbang Pendakian dan Jejak Kopi Raung
Selain keunggulan komoditasnya, Kalibaru menyimpan potensi besar sebagai destinasi Wisata Kopi (Coffee Tourism) yang edukatif sekaligus petualangan. Wilayah perkebunan Raung Sejati merupakan jalur perlintasan alami bagi para pendaki yang hendak menaklukkan megahnya Gunung Raung. Integrasi ini menawarkan pengalaman unik; para pendaki dan wisatawan dapat menikmati pemandangan asri lereng gunung sambil menelusuri perkebunan kopi yang rimbun dalam perjalanan menuju puncak. Fenomena farm-to-cup menjadi daya tarik utama, di mana pengunjung bisa mempelajari teknik pemetikan buah kuning (Yellow Caturra) secara langsung. Gabungan antara nilai sejarah kolonial, rute pendakian yang menantang, dan budaya lokal "Njagong Kopi" menciptakan ekosistem wisata yang holistik, di mana setiap tegukan kopi otentik dinikmati bersama interaksi hangat dari para petani di sepanjang jalur pendakian.
Konsolidasi Strategis: Menghidupkan Spirit Dagang Cokroaminoto
Langkah transformasi Raung Sejati menuju kemandirian ekonomi semakin nyata melalui sebuah agenda bincang santai yang mematangkan integrasi kelompok ke dalam Koperasi Syarikat Islam Mandiri (KSIM). Organisasi Syarikat Islam (dahulu Syarikat Dagang Islam) merupakan entitas yang mewarisi semangat juang HOS Cokroaminoto, yang meletakkan dasar bahwa dakwah tidak hanya melalui mimbar, tetapi juga melalui penguatan perdagangan dan ekonomi umat. Dengan bergabungnya Raung Sejati ke dalam Koperasi Syarikat Islam Mandiri, para petani kini menghidupkan kembali marwah perjuangan tersebut—berdikari secara ekonomi dan berdaulat atas hasil buminya sendiri.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran kunci Raung Sejati yang menjadi motor penggerak visi besar ini, yaitu Iwan Suprayogi, Tri Cahyono, dan Raaf Luqman Syah selaku dewan Pembina yang memberikan landasan nilai dan arah kebijakan. Hadir pula Sugeng Dwiyanto selaku Ketua dan Mochammad Shodiq sebagai Sekretaris yang memastikan kesiapan manajerial kelompok. Sinergi ini bertujuan agar Koperasi KSIM tidak hanya menjadi wadah administratif, melainkan instrumen perjuangan ekonomi yang modern dan inklusif.
Visi Keberlanjutan: Pemberdayaan dan Keterlacakan Digital
Terinspirasi dari model tata kelola kopi dunia, Raung Sejati membawa visi "Empowering Farmers, Ensuring Sustainability". Melalui sistem keterlacakan (traceability), setiap paket kopi yang dipasarkan dapat ditelusuri asal-usulnya secara transparan—memberikan kepastian bahwa setiap butir kopi dipanen dengan prinsip keadilan bagi petani.
Keberlanjutan alam tetap terjaga melalui sistem Agroforestri, di mana kopi tumbuh harmonis di bawah naungan pohon pelindung untuk menjaga ekosistem Gunung Raung dari erosi. Praktik ramah lingkungan yang dipadukan dengan manajemen modern serta bimbingan nilai-nilai kejuangan Syarikat Islam menjadikan kopi Kalibaru bukan sekadar komoditas, melainkan simbol kedaulatan ekonomi melalui kolaborasi yang berkelanjutan.

Komentar