Kamis, 04 Juni 2026 | 07:50
OPINI

Dari Diniyah ke Syaikhah: Pahlawan Rahmah El Yunusiyah

Dari Diniyah ke Syaikhah: Pahlawan Rahmah El Yunusiyah
Pahlawan Rahmah El Yunusiyah (Dok IG Sumbar)

Oleh: Prof. Ismunandar

ASKARA - April tiba, dan seperti biasa kita kembali diingatkan pada sosok perempuan Indonesia yang berjuang melampaui zamannya. Namun jika Kartini sudah begitu akrab di telinga kita — diabadikan dalam lagu, hari libur nasional, bahkan terakhir Prof Wardiman menuliskan buku setebal 1.500 halaman! — ada nama lain yang tak kalah agung, namun agak lebih senyap: Rahmah El Yunusiyah. Mari kita mengenalnya.

Lahir pada 26 Oktober 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat, Rahmah tumbuh dalam keluarga yang taat beragama namun kehilangan ayah sejak usia enam tahun. Didikan ibu dan kakak-kakaknya membentuk perempuan yang keras hati dan haus ilmu. Kakak sulungnya, Zainuddin Labay El Yunusy, mendirikan Diniyah School pada 1915 — sekolah agama modern yang menerima murid laki-laki dan perempuan dalam satu kelas. Rahmah belajar di sana, namun matanya tajam melihat sesuatu yang luput dari perhatian orang lain.

Di kelas campuran itu, murid perempuan diam. Mereka sungkan bertanya tentang masalah kewanitaan kepada guru laki-laki. Pengetahuan agama yang seharusnya menjadi bekal hidup mereka justru tak tersampaikan sepenuhnya. Bagi Rahmah, ini bukan sekadar masalah pedagogis — ini adalah ketidakadilan.

Maka pada 1 November 1923, dengan semangat yang tak kenal kompromi, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Li al-Banat — yang kelak dikenal sebagai Diniyah Putri. Inilah sekolah Islam pertama yang dikhususkan untuk perempuan di Indonesia. Ia merangkap guru sekaligus pimpinan, mengajar agama, bahasa Arab, ilmu kebidanan, tenun, kesehatan, dan keterampilan rumah tangga. Kurikulumnya bukan sekadar mendidik murid menjadi pintar — melainkan menjadi perempuan utuh.

Perjalanannya tidak mulus. Gempa bumi dahsyat 1926 meruntuhkan gedung sekolah. Rahmah menjual perhiasannya, berkeliling Sumatera menggalang dana. Tiga bulan penggalangan, ia pulang membawa 1.500 gulden. Gedung baru berdiri. Sekolah hidup kembali.

Saat pendudukan Jepang, ia menentang pengerahan perempuan sebagai jugun ianfu. Saat revolusi kemerdekaan, ia mendirikan unit perbekalan Tentara Keamanan Rakyat di Padang Panjang, membiayainya dari kantong sendiri. Ia ditangkap Belanda pada 1949. Namun Diniyah Putri tetap berdiri.

Puncak pengakuan dunia datang pada 1957. Diundang ke Universitas Al-Azhar, Kairo — universitas Islam tertua dan paling bergengsi di dunia — Rahmah menerima gelar kehormatan "Syaikhah". Gelar setara guru besar di bidang keislaman itu belum pernah sekalipun diberikan kepada perempuan. Rahmah adalah yang pertama. Para pemimpin Al-Azhar bahkan terinspirasi mendirikan Kulliyatul Banat — fakultas khusus perempuan — berkat menyaksikan langsung apa yang Rahmah bangun di Padang Panjang.

Pada 10 November 2025, pemerintah Indonesia akhirnya menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.

April mengingatkan kita pada perempuan-perempuan yang mengubah sejarah. Kartini menulis surat-surat yang menggerakkan pikiran. Rahmah El Yunusiyah membangun gedung, membentuk kurikulum, dan mengubah cara dunia Islam memandang pendidikan perempuan.

 

Komentar