Gempa Banten Apakah Pertanda Megathrust? Ini Penjelasan Agar Masyarakat Paham
ASKARA - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 yang mengguncang wilayah barat daya Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten, Minggu (22/3/2026), menimbulkan pertanyaan di masyarakat: apakah gempa tersebut berkaitan dengan ancaman megathrust?
Berdasarkan analisis , gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan geser (strike-slip), bukan berasal dari zona megathrust.
Bukan Gempa Megathrust
Megathrust adalah jenis gempa yang terjadi akibat tumbukan antar lempeng bumi (subduksi), yang berpotensi memicu gempa besar hingga tsunami. Sementara gempa di Banten ini berasal dari pergerakan sesar mendatar, sehingga karakter dan dampaknya berbeda.
Meski demikian, wilayah Banten memang berada dekat dengan zona megathrust Sunda, yaitu jalur pertemuan lempeng besar di selatan Pulau Jawa dan Sumatra.
Satu Wilayah Aktif, Tapi Berbeda Sumber
Para ahli menjelaskan, meskipun gempa ini tidak berasal dari megathrust, keduanya masih berada dalam sistem tektonik yang sama. Artinya, wilayah tersebut memang aktif secara geologi.
Namun penting dipahami, gempa dengan magnitudo menengah seperti ini tidak serta-merta menjadi tanda akan terjadi gempa besar megathrust dalam waktu dekat.
Tidak Bisa Diprediksi
Hingga kini, ilmu kebumian belum mampu memprediksi kapan gempa besar akan terjadi secara pasti. Yang dapat dilakukan adalah memantau aktivitas gempa dan meningkatkan kesiapsiagaan.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, terutama di wilayah pesisir Banten dan sekitarnya.
Edukasi Jadi Kunci
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa Indonesia berada di kawasan rawan gempa. Pemahaman yang tepat mengenai jenis gempa diharapkan dapat mencegah kepanikan berlebihan di tengah masyarakat.
Dengan memahami perbedaan antara gempa sesar aktif dan megathrust, masyarakat diharapkan dapat lebih tenang, namun tetap siap menghadapi potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Komentar