Kamis, 23 Juli 2026 | 13:39
NEWS

Inilah Tempat Tirakat Para Tokoh Nusantara

Inilah Tempat Tirakat Para Tokoh Nusantara
Jalan menuju petilasan Kahyangan melewati batu Selo Gapit (Dok Jateng)

 ASKARA - Hutan tua yang menyelimuti kawasan Kahyangan Dlepih di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sejak lama dikenal sebagai salah satu tempat paling sakral dalam tradisi spiritual Jawa. Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut yang kerap turun saat senja, kawasan ini diyakini menyimpan jejak pertapaan para tokoh besar Nusantara.

Praktisi spiritual dari Jakarta, Kanjeng Yoga Hartanto dan Ki Cahaya Adi Wibowo merekomendasikan lokasi ini untuk melakukan tirakat dan penelusuran spiritual di sejumlah titik petilasan.

Menurut keduanya, Kahyangan Dlepih dipercaya sebagai tempat bertapanya Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram, yang pada masa mudanya dikenal sebagai Raden Danang Sutawijaya. Di tempat inilah, menurut kisah yang hidup dalam tradisi Jawa, ia melakukan laku tapa hingga memperoleh wahyu kepemimpinan.

Di tengah kawasan hutan terdapat sebuah goa yang berada di atas kedung air yang tenang dan dalam. Banyak peziarah meyakini lokasi itu menjadi tempat Sutawijaya bermeditasi berhari-hari dalam kesunyian.

Tidak jauh dari goa tersebut berdiri formasi batu alam yang disebut Selo Gapit, dua batu besar yang saling bersinggungan hingga membentuk celah sempit seperti gerbang alami. Dalam tradisi spiritual, celah batu itu diyakini sebagai simbol perjalanan batin seseorang menuju pencerahan.

Sementara itu, batu besar yang menyerupai payung alami dikenal sebagai Selo Payung. Di tempat inilah para pelaku tirakat biasanya duduk bersila melakukan tafakur, menyatu dengan sunyi hutan yang hanya ditemani suara angin dan gemericik air.

Tidak jauh dari sana terdapat Selo Gilang, batu hitam datar yang dipercaya sebagai tempat Panembahan Senopati menjalankan salat lima waktu saat menjalani laku spiritualnya.

Menurut Kanjeng Yoga Hartanto, kawasan Kahyangan memiliki getaran spiritual yang berbeda dibandingkan tempat lain.

"Di tempat ini terasa seperti ada lapisan energi lama yang masih tersimpan. Banyak tokoh besar Nusantara pernah bertapa di sini, sehingga aura batinnya masih terasa hingga sekarang," ujarnya, Jumat (13/3).

Tradisi lisan masyarakat setempat juga menyebut bahwa di puncak Kahyangan, Raden Danang Sutawijaya pernah bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan dalam kosmologi spiritual Jawa. Pertemuan tersebut diyakini menjadi bagian dari perjalanan spiritual yang mengantarkan Sutawijaya mendirikan kerajaan Mataram.

Karena kisah itu pula, sebagian peziarah masih memegang pantangan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau saat berada di kawasan tersebut.

Pada malam-malam tertentu, terutama malam Jumat Kliwon, suasana Kahyangan berubah menjadi lebih khidmat. Para peziarah dari berbagai daerah datang melakukan tirakat, meditasi, bahkan ritual kum-kum dengan berendam di aliran sungai kecil yang mengalir di bawah air terjun.

Bagi sebagian orang, Kahyangan Dlepih bukan sekadar objek wisata alam. Tempat ini diyakini sebagai ruang sunyi yang menyimpan jejak laku spiritual para tokoh besar Nusantara, sebuah persimpangan antara sejarah, legenda, dan dunia yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh nalar manusia.

 

 

Komentar