Minggu, 07 Juni 2026 | 22:20
Ruang Menulis

Graece Tanus: Ketika Makna Menjadi Jejak

Graece Tanus: Ketika Makna Menjadi Jejak
Sejumlah tokoh hadir diacara Peluncuran Buku "Jejak Makna" karya Graece Tanus (Foto GT)

Oleh: Roy Agusta N

ASKARA - Ada buku yang sekadar dibaca lalu dilupakan, seperti percakapan singkat di ruang tunggu. Namun ada pula buku yang diam-diam menetap dalam ingatan, menyisakan sesuatu yang tidak segera hilang. Di sanalah makna bekerja secara perlahan, hampir tak terdengar, hingga akhirnya berubah menjadi jejak.

Seorang penulis sekaligus profesor sastra Inggris di University of Oxford, J. R. R. Tolkien, pernah menulis kalimat terkenal: “Not all those who wander are lost.” Tidak semua orang yang berkelana itu tersesat. Justru dalam perjalanan itulah seseorang kerap menemukan makna.

Ketika makna menjadi jejak, ia berbicara tentang perjalanan hidup seseorang. Demikian pula perjalanan Graece Tanus yang kemudian menerjemahkan pengalaman dan perenungannya dalam sebuah buku berjudul Jejak Makna. Buku tersebut menjadi semacam warisan intelektual yang ditinggalkan kepada pembaca, sebuah medium yang menyimpan pengalaman, pemikiran, dan refleksi dalam ingatan kolektif.

Di sanalah perjalanan literasi menemukan ruangnya: tempat seseorang memahami dunia bacaan, memahami dirinya sendiri, serta memaknai realitas yang dihadapi.

Peluncuran buku Jejak Makna terasa seperti pengingat bahwa kata-kata tidak selalu berhenti di halaman. Ia dapat berjalan lebih jauh, memasuki ingatan, percakapan, bahkan cara seseorang memandang hidup.

Peluncuran buku tersebut digelar pada Senin, 9 Maret 2026, di aula lantai 4 Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Sejumlah tokoh hadir dalam acara tersebut, antara lain Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Nasrudin Djoko Surjono, Kepala UP Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin Diki Lukman Hakim, serta mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Hadir pula Gemala Rabi'ah Hatta, putri kedua proklamator Mohammad Hatta, kemudian dokter dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Denni Joko Purwanto, Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia Francisia Saveria Sika Ery Seda, serta perwakilan keluarga tokoh nasional seperti keluarga M. H. Thamrin dan keluarga ahli waris Wage Rudolf Soepratman. Sejumlah undangan lain juga hadir, termasuk siswa dan alumni SMAN 1 Jakarta.

Pada akhirnya, buku bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah catatan sunyi tempat makna perlahan menemukan bentuknya. Dari sana, jejak-jejak kecil mulai tersusun. Jejak Makna pada hakikatnya tidak pernah benar-benar selesai, sebab setiap langkah, setiap kata, dan setiap pengalaman akan meninggalkan jejaknya sendiri.

Buku karya Graece Tanus ini mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang tiba di tujuan. Ia juga tentang keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika jalan belum sepenuhnya terang. Dari langkah-langkah kecil itulah makna perlahan tumbuh dan menemukan bentuknya.

Karena itu, jangan pernah ragu untuk berjalan, belajar, dan menafsirkan hidup dengan cara kita sendiri. Sebab setiap langkah selalu membuka kemungkinan lahirnya jejak baru yang kelak memiliki arti.

Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya lembut di pagi hari.
Langkah kecil jangan berhenti,
Dari jejak itulah makna lahir nanti.

 

 

Komentar