Selasa, 21 Juli 2026 | 18:43
NEWS

Korut Siap Bantu Iran, Picu Ancaman Perang Lebih Luas

Akankah Nuklir Bicara?

Korut Siap Bantu Iran, Picu Ancaman Perang Lebih Luas
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyambut peserta parade militer (Dok KCNA)

ASKARA - Pernyataan dukungan Korea Utara terhadap Iran memunculkan spekulasi baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Jika Pyongyang benar-benar mengerahkan armada militernya untuk membantu Teheran, langkah tersebut berpotensi mengubah peta konflik di kawasan Timur Tengah.

Sinyal dukungan itu muncul setelah terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri di Pyongyang, Korea Utara menyatakan menghormati keputusan rakyat Iran dalam menentukan pemimpin tertinggi mereka.

"Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk memilih pemimpin tertinggi mereka," ujar juru bicara tersebut sebagaimana dikutip Korean Central News Agency (KCNA), Rabu (11/3).

Dalam pernyataan yang sama, Pyongyang juga menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang merusak stabilitas kawasan.

"Amerika Serikat dan Israel menghancurkan fondasi perdamaian dan keamanan regional serta meningkatkan ketidakstabilan di seluruh dunia," lanjut pernyataan tersebut.

Analis menilai, jika Korea Utara benar-benar terlibat secara militer, misalnya dengan mengerahkan kapal perang atau dukungan teknologi senjata, situasi konflik dapat berkembang menjadi konfrontasi geopolitik yang lebih luas.

Dalam beberapa waktu terakhir, Korea Utara juga memperlihatkan peningkatan aktivitas militernya. Pemimpin negara itu, Kim Jong Un, dilaporkan mengawasi uji coba rudal jelajah strategis yang diluncurkan dari kapal perusak Choe Hyon.

Media pemerintah menyebut uji coba tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan pencegah perang nuklir serta memperkuat kekuatan angkatan laut Korea Utara.

Di sisi lain, hubungan antara Pyongyang dan Washington juga masih diliputi ketegangan. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut berupaya membuka kembali jalur dialog dengan Korea Utara terkait program nuklir negara tersebut.

Namun hingga kini, pembicaraan mengenai pelucutan nuklir Korea Utara masih menemui jalan buntu, sementara dinamika konflik di Timur Tengah terus berkembang dan berpotensi melibatkan lebih banyak aktor global.

 

Komentar