Selasa, 21 Juli 2026 | 11:24
NEWS

Misteri Makam Terbengkalai di Wonosobo, Jejak Leluhur Penemu Borobudur Terungkap

Misteri Makam Terbengkalai di Wonosobo, Jejak Leluhur Penemu Borobudur Terungkap
Sejarawan Izmi Azis ketika menelusuri jejak Mas Patrawidjaya di Kalibeber (Dok Izmi)

ASKARA - Penelusuran sejarah yang dilakukan Tim R. Drs. R. Djuhartanto pada 16 November 2025 mengungkap temuan penting di Desa Garung, Sendang Sari, Kecamatan Kalibeber, Kabupaten Wonosobo. Di lokasi tersebut ditemukan makam sederhana yang selama ini terbengkalai dan tidak lagi diziarahi.

Pada nisan itu tertulis nama Mas Patrawidjaya. Tidak terdapat keterangan lain, namun berdasarkan penelusuran sejarah dan keterangan turun-temurun keluarga, Mas Patrawidjaya diyakini pernah menjabat sebagai Demang Kalibeber. Sementara di lokasi yang sama juga terdapat makam Nyai Mas Ajeng Patrawidjaya.

Informasi tersebut disampaikan Ketua PMBN Banyumas Raya, R. Ngt. Arini Sanjaya, SE, Rabu (4/3/2026).

Menurut Arini, Mas Ajeng Patrawidjaya merupakan putri dari Raden Adipati Danurejo I, Patih pertama Kasultanan Yogyakarta (1755-1799), dari pernikahannya dengan Mbok Ajeng Gambir. Hal ini merujuk pada sumber Buku Babon 2.1.1.1.1 AP Raden Adipati Danurejo I.

"Jadi, informasi yang menyebut Mas Ajeng Patrawidjaya sebagai putri Amangkurat IV adalah tidak benar," tegas Arini.

Penelusuran lanjutan dilakukan pada 1 Desember 2025 dengan menghadirkan putu wayah (keturunan) keluarga, termasuk didampingi sejarawan Doktor Azmi Abubakar. Dari penelusuran itu terungkap bahwa pasangan Mas Ajeng Patrawidjaya dan Mas Patrawidjaya memiliki seorang putra bernama Raden Luwar.

Raden Luwar inilah yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Tan Djing Sing atau Raden Secodiningrat.

Tokoh Jawa yang Berperan dalam Penemuan Borobudur

Tan Djing Sing (1760-1830) selama ini sering diasosiasikan sebagai tokoh Tionghoa. Namun berdasarkan silsilah keluarga, ia merupakan asli Jawa, putra tunggal Mas Patrawidjaya dan Mas Ajeng Patrawidjaya. Ia kemudian diadopsi dan diasuh oleh Oey The Long, serta disusukan kepada keluarga Tan sehingga menggunakan nama Tan Djing Sing. Dan janda Mas Ajeng Patrawijaya kemudian menikah dengan Oey The Long , dengan membawa Raden Luwar atau Tan Djing Sing kecil.

Dalam perjalanan kariernya, Tan Djing Sing menjabat sebagai Kapiten Tionghoa di Kedu dan Yogyakarta, sebelum kemudian diangkat menjadi Bupati Nayoko pada 1813 di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono III.

Dalam kapasitasnya sebagai pejabat, Tan Djing Sing memiliki kedekatan dengan Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Saat Raffles menyatakan ketertarikannya terhadap bangunan kuno di wilayah Kedu, Tan Djing Sing mengingat temuan batu-batuan tertimbun tanah di Desa Bumisegoro dekat Muntilan.

Dari informasi itulah kemudian dilakukan penelitian yang menjadi awal terungkapnya Candi Borobudur yang selama ratusan tahun tertutup tanah dan semak belukar. Fakta ini memperkuat narasi bahwa peran Tan Djing Sing sangat signifikan dalam proses awal penemuan kembali Borobudur, bukan semata-mata Raffles.

Kedekatan dengan Pangeran Diponegoro

Tak hanya itu, Tan Djing Sing juga tercatat memiliki hubungan dekat dengan Pangeran Diponegoro. Secara diam-diam ia disebut sebagai salah satu pendukung dan pemasok dana perjuangan Diponegoro.

Menurut penuturan keluarga, saat mendengar kabar penangkapan Pangeran Diponegoro, Tan Djing Sing bahkan jatuh pingsan. Ia juga tercatat membantu pemulihan Keraton Yogyakarta pasca Geger Sepehi serta membiayai pesta penobatan Sultan Hamengkubuwono IV di Alun-Alun Kidul.

Jejak Keturunan hingga Bupati Wonosobo

Penelusuran ini juga mengaitkan garis keturunan Demang Kalibeber dengan tokoh-tokoh penting di Wonosobo. Dari garis keluarga Patih Danurejo I lahir Raden Bagus Ngaprah yang kelak menjadi Bupati Wonosobo I dengan gelar Raden Tumenggung Setjonegoro.

Arini menyatakan, temuan ini akan diteruskan kepada para keturunan (putu wayah) untuk ditindaklanjuti, termasuk kemungkinan revitalisasi dan pelestarian makam.

"Ini bukan sekadar penemuan makam, tetapi membuka kembali mata rantai sejarah besar yang selama ini terputus," ujarnya.

Temuan tersebut diharapkan menjadi momentum pelurusan sejarah serta penghormatan terhadap tokoh-tokoh lokal yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan bangsa.

 

 

Komentar