Gayo Bangkit: Muncul Setelah Ratusan Tahun, Gajah Putih Bikin Geger
ASKARA - Kebangkitan identitas dan sejarah Aceh Gayo kembali mengemuka setelah terungkapnya berbagai temuan arkeologis di kawasan Ceruk Mendale dan Ujung Karang di tepi Danau Laut Tawar. Penemuan kerangka manusia purba, anak panah, gerabah, serta jejak tradisi gigi yang diratakan menguatkan dugaan bahwa wilayah ini pernah dihuni komunitas awal penutur Austronesia.
Loyang Mendale dan Loyang Ujung Karang menjadi titik penting dalam kajian prasejarah Sumatera. Para peneliti menilai, penghuni kedua loyang tersebut sangat mungkin merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia yang penyebarannya sangat luas di dunia.
Temuan ini mempertegas bahwa dataran tinggi Gayo bukan hanya memiliki sejarah era kerajaan dan perjuangan kemerdekaan, tetapi juga jejak peradaban prasejarah yang signifikan.
Di tengah menguatnya kesadaran sejarah tersebut, masyarakat Gayo juga dikejutkan dengan kemunculan lima ekor gajah putih di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Penampakan langka itu viral di media sosial dan memantik perbincangan luas.
Sebagian warga mengaitkan kemunculan tersebut dengan penobatan Reje Linge ke-21, Juhursyah Bin Asa, dalam prosesi adat Munikni Reje Kerejen Linge pada 25 Februari 2025. Ketua Umum Pasak Opat Nenggeri Linge, Zam Zam Mubarak, menilai kemunculan gajah putih bukan sekadar fenomena alam biasa.
“Saya kira Gajah Putih dan Reje Linge tidak bisa dipisahkan. Munculnya gajah putih di Pintu Rime Gayo seperti isyarat kebangkitan kembali Reje Linge,” ujarnya.
Dalam sejarah Kerajaan Linge, gajah putih memiliki makna spiritual dan simbolik yang kuat. Bahkan, nama Gajah Putih diabadikan dalam sejumlah institusi seperti Universitas Gajah Putih serta menjadi simbol dalam lambang Kodam Iskandar Muda.
Sejarah juga mencatat kisah Sengeda, putra Reje Linge XIII, yang dalam mimpinya mendapat petunjuk untuk menangkap gajah putih dan mempersembahkannya kepada Sultan Aceh Darussalam. Peristiwa tersebut memperkuat hubungan spiritual dan politik antara Kerajaan Linge dan Kesultanan Aceh.
Melihat rangkaian peristiwa tersebut, Pasak Opat Nenggeri Linge mendesak Menteri Kebudayaan untuk mengambil langkah konkret menyelamatkan sejarah Gayo, terutama pascabencana yang berpotensi mengancam situs dan cagar budaya.
“Sejarah Gayo adalah bagian dari identitas bangsa. Kita harus melestarikannya untuk generasi mendatang,” tegas Zam Zam, Rabu (4/3).
Ia juga menyoroti banyaknya artefak dan benda bersejarah Gayo yang saat ini tersimpan di museum-museum Belanda. Menurutnya, sudah saatnya pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan melakukan kajian serius dan mengupayakan repatriasi benda-benda tersebut sebagai aset besar negara.
Desakan ini sekaligus menjadi momentum kebangkitan Aceh Gayo, bukan hanya secara adat dan spiritual, tetapi juga dalam pengakuan sejarah dan perlindungan warisan budaya yang menjadi bagian penting dari peradaban Nusantara.

Komentar