Senin, 08 Juni 2026 | 15:31
Ruang Menulis

Cerpen: Tutup Botol Hijau dan Sisa Hidup

Cerpen: Tutup Botol Hijau dan Sisa Hidup
Ilustrasi

ASKARA - Di kios pakan burung di pinggir jalan depan perumahan yang temboknya terlalu putih, aku berdiri dengan napas agak pendek sambil memegang botol semprot tua yang selalu kubawa dalam tas kain. Bau biji kenari dan debu bercampur angin siang yang kering. Aku hendak membeli tutup botol semprot yang lama sudah retak dan bocor.

Penjualnya seorang lelaki muda dengan wajah bersih dan mata ramah. Ia menoleh sambil tersenyum.
“Mau warna apa Pakde.”

Aku tertawa kecil. Sejak dua tahun terakhir orang orang memang memanggilku Pakde. Rambutku memutih lebih cepat sejak paru paruku rusak akibat puluhan tahun bekerja di pabrik bahan kimia. Nama asliku jarang disebut lagi. Seolah usia menghapusnya perlahan.

“Bukan sok muda atau remaja lho Pakde,” katanya sambil meraih beberapa tutup botol dari rak. “Biar saya tidak salah ambil dan memberikan warna yang njenengan mboten remen.”

Aku manggut manggut. “Ijo.”

“Yakin Thit. Coba ditimbang lagi siapa tahu ternyata pengin warna yang lain.”

“Nggak dah ijo itu.”

“Oke Pakde siap.”

“Pinten.”

“Tujuh ribu lima ratus saja.”

Ia meletakkan tutup botol berbungkus plastik di depanku. Hijau warnanya seperti daun yang baru disiram hujan.
“Gini Pakde nanti sampai rumah jangan langsung dipasang di botol. Coba dulu di ember atau bak mandi masukkan ke air terus pencet pencet sampai nyemprot.”

Aku mendengarkan dengan serius. Bukan karena aku belum tahu melainkan karena mendengar orang lain menjelaskan membuatku merasa masih dianggap hidup.

“Kalau buat air biasa beda dengan buat cairan wangi atau minyak,” lanjutnya. “Ini biar barang awet dan Pakde tidak perlu cepat cepat beli lagi.”

Aku mengangguk. Kata awet membuat dadaku terasa sedikit lebih sempit.

“Baik terima kasih.”

“Sehat sehat Pakde.”

“Aamiin begitu juga sampean.”

“Aamiin.”

Aku berjalan pulang melewati gerbang perumahan. Di balik tembok tembok tinggi itu terdengar suara anak anak dan televisi. Istriku sudah meninggal tiga tahun lalu. Anakku tinggal di kota lain. Aku hidup bersama paru paru yang perlahan mengeras dan cairan semprot yang menolongku bernapas.

Di rumah aku menyiapkan ember berisi air dan mencoba tutup botol hijau itu seperti yang dianjurkan. Semburannya halus dan merata. Sempurna.

Botol semprot tua itu kugunakan untuk menyemprotkan larutan khusus ke udara di rumah. Dokter paru paruku menyebutnya terapi uap kimia ringan. Cairan itu membantu membuka saluran napasku dan menunda sesak yang bisa datang tiba tiba.

Aku mencampur cairan itu di dapur. Takaran sudah kuhafal seperti doa. Lalu kupasang tutup botol hijau baru itu. Pas rapat dan nyaman di tangan.

Aku mulai menyemprotkan uap ke ruang tamu. Ke kamar tidur. Ke sudut sudut rumah yang sunyi. Napasku menjadi sedikit lebih panjang. Dadaku terasa lebih lapang.

Namun setelah beberapa semprotan aku mencium bau asing. Tajam dan getir. Bukan bau cairan terapiku. Tenggorokanku terasa perih.

Aku berhenti. Mengangkat botol. Mengendusnya. Bau plastik terbakar bercampur larutan kimia.

Aku teringat pabrik lama tempatku bekerja. Plastik murahan yang bereaksi dengan bahan aktif. Racun pelan yang tidak terasa di awal.

Tanganku gemetar. Tutup botol hijau itu mulai terasa hangat.

Aku duduk terhuyung di kursi ruang tamu. Napasku justru semakin berat. Alat yang kupilih untuk memperpanjang hidup ternyata sedang meracuni udara yang kuhirup.

Di meja masih tergeletak plastik pembungkusnya. Ada tulisan kecil yang baru sekarang kubaca. Bahan daur ulang tidak cocok untuk cairan aktif.

Aku tertawa lirih. Sepanjang hidup aku menghindari kematian dengan bekerja keras minum obat dan menyemprot udara. Dan akhirnya aku dibunuh oleh benda tujuh ribu lima ratus rupiah yang kupilih sendiri.

Suara penjual itu terngiang lagi di kepalaku.
“Sehat sehat Pakde.”

Aku memejamkan mata sambil terengah.
“Aamiin,” bisikku. “Tapi rupanya Tuhan memilih warna lain untuk sisa hidupku.”

Komentar