Selasa, 21 Juli 2026 | 23:07
NEWS

BMKG: Iklim Makin Panas, Bencana di Sumatra Kian Sering

BMKG: Iklim Makin Panas, Bencana di Sumatra Kian Sering
Wakil Rektor III Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Dr Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan (kiri) menyerahkan plakat kepada Dr Ardhasena Sopaheluwakan (Dok USU

ASKARA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan perubahan iklim global menjadi faktor utama meningkatnya frekuensi bencana alam dalam beberapa tahun terakhir, termasuk banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Pulau Sumatra pada penghujung 2025.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bencana yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dipengaruhi pemanasan iklim dunia yang semakin ekstrem, diperkuat oleh aktivitas siklon tropis di sekitar kawasan Sumatra.

“Bencana alam yang terjadi akhir tahun lalu di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat disebabkan iklim dunia yang terus memanas serta adanya siklon tropis di sekitar Sumatra,” kata Ardhasena saat menjadi pembicara dalam Diskusi Ilmiah bertajuk Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatra di Kampus Universitas Sumatra Utara (USU), Medan, Selasa (10/2).

Dalam paparannya, Ardhasena menjelaskan kawasan Laut Banda merupakan salah satu titik yang kerap menjadi tempat tumbuh bibit badai tropis. Dari catatan BMKG, terdapat 10 badai tropis yang awal kemunculannya terdeteksi dari wilayah tersebut. Jika diperluas ke arah selatan, jumlah siklon tropis yang tercatat bisa lebih dari 30 kejadian.

Menurutnya, perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrem turut memicu curah hujan ekstrem di Sumatra pada November dan Desember 2025. Fenomena tersebut dipengaruhi pusaran badai, konvergensi angin yang membentuk awan secara masif, serta konveksi akibat pemanasan permukaan laut.

Ardhasena juga mengingatkan, hingga Juni tahun ini potensi hujan tinggi masih akan terjadi di wilayah selatan khatulistiwa. Karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi agar dampak bencana dapat ditekan.

BMKG mencatat siklon tropis Senyar pada November 2025 ikut memicu curah hujan tinggi di sejumlah wilayah. Lima titik dengan curah hujan tertinggi antara lain Singkil Utara, Aceh (225 mm), serta empat wilayah di Sumatra Barat yakni Limau Purut (182 mm), Ulakan Tapakis (177 mm), Staklim Padang Pariaman (167,5 mm), dan Tambang Semen Padang (145 mm).

Sementara di Sumatra Utara, tiga wilayah di Kabupaten Langkat, yaitu Gebang, Cempa, dan Secanggang, juga mencatat curah hujan sangat tinggi pada akhir November 2025. Ardhasena menyebut curah hujan normal berada di kisaran 474 mm, namun pada November 2025 meningkat hingga 1.356 mm.

Ia menambahkan, ke depan curah hujan maksimum harian diprediksi makin meningkat dan kejadian ekstrem akan lebih sering terjadi. Curah hujan di atas 250 mm yang sebelumnya memiliki periode ulang 100 tahun, diperkirakan dapat berubah menjadi kejadian yang jauh lebih sering, bahkan dengan periode ulang di bawah 20 tahun. “Perubahan iklim global, di mana suhu bumi semakin memanas, menjadi penyebab utama hujan ekstrem yang kemudian memicu bencana,” pungkasnya.

 

 

Komentar