Amarah Gubernur NTT Meledak: Anak SD Mati Karena Tak Punya Bolpoin
ASKARA - Di sebuah ruangan kampus di Kupang, orang-orang awalnya datang untuk acara yang biasa. Ada sambutan, ada senyum formal, ada tepuk tangan yang tertib. Namun semuanya berubah ketika Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melkianus Laka Lena, berdiri dan menyebut satu kalimat yang membuat udara seperti jatuh ke lantai.
Seorang bocah SD di Ngada, kata dia, meninggal. Diduga mengakhiri hidup. Bukan karena perang, bukan karena penyakit, bukan karena bencana. Melainkan karena kemiskinan, karena tidak sanggup membeli buku dan bolpoin.
Kalimat itu tidak terdengar seperti berita. Ia terdengar seperti luka. Seperti pengakuan pahit yang terlalu lama disembunyikan di balik angka statistik.
Melki tidak berbicara dengan nada pejabat yang rapi. Ia bicara seperti seorang ayah yang baru tahu anaknya terluka. Suaranya meninggi, keras, emosional. Tidak ada ruang untuk basa-basi.
“Anak kita meninggal hanya karena tidak bisa beli buku, bolpoin,” ucapnya, Rabu (4/2).
Orang-orang di ruangan itu terdiam. Mungkin karena tak ada kata yang pantas setelah itu. Mungkin karena semua orang tahu, alat tulis adalah benda paling sederhana, barang yang di kota dibeli sambil lalu, tapi di banyak sudut NTT bisa menjadi batas antara sekolah dan putus sekolah, antara bertahan dan menyerah.
Di atas panggung, gubernur mengaku bukan hanya sedih. Ia terusik. Ia terganggu. Seperti ada sesuatu yang menusuk harga diri sebuah daerah, bahkan harga diri sebuah bangsa.
Kabar itu, katanya, tidak berhenti di Ngada. Ia menyebar cepat. Pesan WhatsApp berdatangan dari orang-orang yang biasanya tidak mudah terkejut: menteri, pimpinan DPR, kolega-kolega di tingkat nasional.
“Menteri WA saya, pimpinan DPR WA saya. Mereka tanya, apa yang terjadi di NTT?” kata Melki.
Namun pertanyaan itu justru membuatnya semakin terpukul. Ia mengaku ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Tangannya terasa berat. Bukan karena ia tidak punya jawaban, tetapi karena jawabannya terlalu pahit: bahwa di NTT, masih ada anak yang bisa kehilangan nyawa hanya karena kemiskinan.
“Mau jawab, lidah saya kelu. Tangan saya susah juga jawab,” ujarnya.
Dalam momen itu, Melki seperti tidak sedang berpidato. Ia seperti sedang menahan rasa malu, marah, sekaligus penyesalan. Sebab kematian seorang anak tidak pernah berdiri sendiri. Di belakangnya selalu ada cerita panjang: keluarga yang berjuang, rumah yang sunyi, hari-hari yang serba kurang, dan rasa putus asa yang perlahan menumpuk sampai tak tertahankan.
Dan ketika seorang anak memilih mengakhiri hidup, itu berarti ada sesuatu yang gagal melindungi.
Gubernur menilai tragedi ini bukan sekadar duka keluarga. Ini adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan: pemerintah daerah, pemerintah pusat, sekolah, tokoh masyarakat, bahkan orang-orang yang selama ini merasa urusan kemiskinan adalah urusan “angka”.
Karena kemiskinan tidak pernah hanya soal angka. Ia soal perut kosong. Soal seragam yang robek. Soal anak yang takut dimarahi guru karena tak membawa buku. Soal rasa malu yang menekan dada sampai tak ada ruang untuk bernapas.
Melki lalu menyebut satu hal yang membuat ruangan makin tegang. Ia mengatakan, seandainya informasi ini lebih dulu sampai ke Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul beberapa hari sebelumnya, kemarahan besar bisa saja meledak.
“Kalau Pak Prabowo pegang duluan ini informasi, pasti kita semua sudah dicincang kemarin. Pak Prabowo paling marah model begini,” katanya.
Kalimat itu terdengar keras. Tapi pesan di baliknya lebih keras lagi: tragedi ini adalah kegagalan bersama. Dan jika negara masih membiarkan anak-anak mati karena tak mampu membeli bolpoin, maka kita sedang kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada penerimaan daerah atau laporan program, kita kehilangan rasa kemanusiaan.
Di akhir pernyataannya, Melki berharap kejadian ini tidak berlalu seperti berita-berita sedih lainnya: viral sehari, lalu hilang. Ia ingin tragedi ini menjadi titik balik. Agar sekolah-sekolah tidak hanya bicara kurikulum, tetapi juga memastikan tak ada anak yang tertinggal karena miskin.
Agar pemerintah tidak hanya bicara program, tetapi juga menyentuh kebutuhan paling dasar. Agar orang-orang yang punya kuasa tidak lagi duduk nyaman ketika ada anak yang mati pelan-pelan karena rasa putus asa.
Karena di balik berita itu, ada satu kenyataan yang tak bisa ditawar: seorang anak telah pergi, dan ia pergi membawa pertanyaan yang seharusnya membuat kita semua tidak bisa tidur nyenyak.
Mengapa sebuah bolpoin bisa menjadi akhir dari harapan?

Komentar