Kamis, 04 Juni 2026 | 07:29
OPINI

Durmogati, Sosok Plonga-Plongo

Durmogati, Sosok Plonga-Plongo
Ilustrasi gambar Durmogati, tokoh Kurawa (Dok Grmini)

Oleh: Jaya Suprana

Budayawan sekaligus Presiden Lima Gunung dan Raja Kerajaan Mendut, Sutanto, menanggapi naskah Plonga-Plongo saya dengan bahasa Indonesia khas dirinya sendiri, bahasa yang gembira, berputar ke kanan lalu ke kiri, seperti lirik lagu Gemu Fa Mi Re (Maumere).

Kurang lebih, tanggapan beliau sebagai berikut:

Ia menyatakan kurang cocok dengan istilah plonga-plongo yang saya gunakan. Menurutnya, sosok yang lebih tepat adalah Durmogati, tokoh Kurawa. Digambarkan berwajah lugu, rambut dan pakaian yang “lucu tanpa niat lucu”. Saat berteriak mengajak maju ke medan perang, justru ia berbalik lari. Wajah dan dagunya menatap lurus ke depan, tetapi ia mudah tertidur dan jarang memikirkan persoalan serius.

Durmogati, apakah ia kotor atau bersih, digambarkan sebagai sosok polos yang mudah ditunggangi dan dibisiki lingkungannya, baik oleh yang bodoh tapi baik, maupun yang cerdas namun jahat. Ia memerankan lakon yang ambigu dan liminal, tanpa beban jejak digital, ahistoris sebagai penyeimbang dogma historis. Ia adalah sosok salya: ksatria yang hatinya memihak Pandawa, namun tetap menerima gaji dan bahkan menjadi panglima perang Astina.

Durmogati bukan oportunis dan bukan pula pengkhianat. Ia hadir sebagai figur abu-abu di tengah polarisasi, bagian dari kehendak dewata untuk melengkapi dunia yang tidak hitam-putih. Ia dapat tersenyum tanpa simbol, tidak sepenuhnya gembira, namun juga tidak larut dalam kesedihan. Terimalah saja, kata beliau, bahwa dunia ini kerap terasa seperti buaya di piring, besarnya seukuran lele dumbo.

Saya sangat berterima kasih atas ikhtiar Mas Tanto yang bersusah payah mengingatkan saya pada sosok plonga-plongo bernama Durmogati. Namun, dengan segala hormat, saya mohon maaf karena terpaksa menyensor sebagian tanggapan beliau. Hal ini saya lakukan lantaran di dalamnya disebut nama seorang pejabat tinggi, yang demi kehati-hatian sebaiknya tidak dituliskan agar saya tidak berurusan dengan kepolisian.

Seingat saya, selain Nakula yang memiliki saudara kembar Sadewa, Citraksi yang memiliki Citraksa, serta Kak Seto yang memiliki Kak Kresno, sebenarnya Durmogati pun memiliki saudara kembar bernama Durmogempa. Meski Durmogempa tidak setenar Durmogati, dalam pergelaran wayang kulit maupun wayang orang, ia hampir selalu setia mendampingi saudaranya.

Terus terang, saya tidak mengetahui bagaimana nasib Durmogempa: apakah ia turut gugur dalam Bharatayuddha bersama Durmogati, ataukah ia memilih jalan lain.

 

Komentar