Selasa, 21 Juli 2026 | 14:10
NEWS

Banjir Cawang Berulang, FAKTA Indonesia Nilai Jakarta Gagal Beradaptasi Perubahan Iklim

Banjir Cawang Berulang, FAKTA Indonesia Nilai Jakarta Gagal Beradaptasi Perubahan Iklim
Ilustrasi banjir (Dok Freepik)

ASKARA - Banjir kembali melanda kawasan Jalan DI Panjaitan, Cawang, Jakarta Timur, Kamis pagi (22/1/2026). Ketinggian air mencapai 40-50 sentimeter dan mengakibatkan gangguan serius terhadap arus lalu lintas hingga kemacetan total pada jam sibuk pagi hari.

Wilayah Jalan DI Panjaitan diketahui menjadi salah satu titik langganan banjir setiap musim hujan. Pada musim hujan tahun ini saja, kawasan tersebut tercatat telah mengalami banjir sebanyak tiga kali. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, terutama pekerja yang hendak berangkat ke kantor, serta melumpuhkan operasional kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menilai banjir yang terus berulang menunjukkan kegagalan Kota Jakarta dalam menyesuaikan diri dan meningkatkan kualitas pelayanan publik di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.

“Situasi sudah kacau di jalan raya, masyarakat terjebak banjir dan kemacetan, tetapi tidak ada sistem peringatan dini yang bekerja. Pemerintah kota juga dinilai lamban dalam menghadirkan respons darurat bagi warga yang terdampak,” ujar Azas dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/1).

Menurutnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah jauh hari menyampaikan peringatan dan rekomendasi terkait potensi cuaca ekstrem. Namun, peringatan tersebut tidak diikuti dengan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang memadai di tingkat kota.

Azas menjelaskan, banjir di kawasan Cawang disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, tingginya intensitas hujan yang tidak diimbangi dengan sistem drainase yang berfungsi baik. Banyak gorong-gorong dilaporkan rusak, tidak terawat, dan tersumbat sampah sehingga air tidak dapat mengalir lancar.

Kedua, berkurangnya secara drastis ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan Cawang-Jatinegara. Pesatnya pembangunan infrastruktur dan kawasan terbangun menyebabkan tanah kehilangan daya serap air, sehingga limpasan hujan langsung menggenangi jalan dan permukiman.

“Perubahan iklim membuat intensitas hujan jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika tata kelola kota tidak beradaptasi dan perilaku masyarakat tetap merusak lingkungan, maka banjir akan terus menjadi bencana rutin,” tegasnya.

FAKTA Indonesia mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera melakukan langkah adaptasi terhadap perubahan iklim, antara lain dengan memperbaiki dan merawat drainase secara konsisten, melindungi dan menambah ruang terbuka hijau, serta membangun sistem mitigasi bencana yang efektif.

“Jakarta membutuhkan sistem peringatan dini dan respons darurat yang cepat, tata kelola kota yang ramah lingkungan, serta edukasi publik agar masyarakat turut menjaga lingkungannya. Tanpa itu, kerugian sosial dan ekonomi akibat banjir akan terus berulang,” pungkas Azas.

 

 

Komentar