OTT Pegawai Pajak Momentum Bersih-Bersih untuk Menegakkan Kepercayaan Publik
ASKARA-Operasi tangkap tangan terhadap pegawai Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta kembali menjadi sorotan publik.
Pasalnya, peristiwa itu terjadi di tengah tekanan penerimaan negara yang belum mencapai target (shortfall) dan defisit APBN yang merayap mendekati 3 persen. Buntutnya, kasus tersebut memantik kekhawatiran baru mengenai integritas institusi perpajakan.
Namun bagi anggota Komisi XI DPR RI, momentum ini justru harus dipahami sebagai bukti bahwa mekanisme pengawasan negara bekerja dan keberanian penegak hukum tidak pernah surut.
“Kita harus tegas menyebut bahwa ini adalah perilaku oknum, bukan representasi dari keseluruhan institusi perpajakan. Justru saat kondisi fiskal sedang menantang, bersih-bersih harus lebih keras dilakukan. Kepercayaan publik adalah fondasi penerimaan negara,” kata anggota Komisi XI DPR Amin Ak dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, respon cepat Kementerian Keuangan dan DJP yang menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada KPK adalah langkah penting untuk menjaga marwah reformasi perpajakan.
Publik, ujarnya lagi, perlu melihat bahwa negara tidak memberi ruang kompromi terhadap penyimpangan, sekecil apa pun.
Dia menegaskan penindakan terbuka seperti ini memperlihatkan bahwa sistem check and balance mulai menghasilkan dampak: digitalisasi proses, pengawasan berlapis, serta audit berbasis risiko mulai menutup ruang abu-abu dalam relasi antara auditor, konsultan pajak, dan wajib pajak besar.
“Kalau kita ingin membangun sistem perpajakan modern dan kredibel, maka ketegasan seperti ini bukan gangguan, tapi syarat. Membersihkan oknum justru menguatkan pondasi negara,” ujar Amin.
Pihaknya menilai pembenahan harus dilakukan lebih dalam pada tiga sisi, yaitu perbaikan sistem pemeriksaan pajak, reformasi SDM, dan penataan ulang ekosistem konsultan pajak.
Amin juga menegaskan perlunya digitalisasi pemeriksaan dari hulu ke hilir agar setiap keputusan fiskus terlacak secara otomatis, meminimalkan ruang negosiasi yang dapat disalahgunakan.
Dari sisi SDM, rotasi cepat, promosi berbasis integritas, serta lifestyle check digital wajib diperkuat. Sementara itu, peran konsultan pajak harus dikembalikan kepada fungsi profesionalnya yang berperan sebagai penasihat kepatuhan, bukan broker akses dan celah penyimpangan.
“Harus dipastikan reformasi perpajakan tidak berhenti pada slogan. Ruang penyimpangan harus semakin sempit, tata kelola makin kuat, dan integritas aparat menjadi tiang utama menjaga penerimaan negara,” katanya.

Komentar