Vatikan Tutup Tahun Jubelium 2025, Paus Leo XIV Serukan Harapan Baru
ASKARA - Tahun Jubelium Pengharapan 2025 resmi berakhir setelah Paus Leo XIV menutup Porta Santa atau Pintu Suci Basilika Santo Petrus, Vatikan, Selasa (6/1) pukul 10.00 waktu setempat. Penutupan dilakukan dalam upacara singkat dan khidmat, yang kemudian dilanjutkan dengan Misa Epifani diikuti sekitar 5.800 umat, termasuk anggota Korps Diplomatik Takhta Suci.
Selama lebih dari satu tahun, Vatikan menjadi pusat ziarah umat Katolik dunia. Doa dan nyanyian dalam berbagai bahasa menggema setiap hari di empat basilika utama Roma, mencerminkan keberagaman peziarah yang datang membawa harapan dari berbagai belahan dunia.
Uskup Agung Rino Fisichella menyebutkan hampir 33,5 juta peziarah dari 185 negara mengunjungi Roma sepanjang Tahun Jubelium. Sekitar 7.000 relawan terlibat aktif mendukung berbagai kegiatan, menjadikan Jubelium sebagai peristiwa spiritual global yang masif.
Data Vatikan juga menunjukkan mayoritas peziarah berasal dari Eropa, meski antusiasme datang dari seluruh dunia. Italia, Amerika Serikat, Spanyol, Brasil, dan Polandia tercatat sebagai negara penyumbang peziarah terbanyak.
Tradisi Tahun Jubelium sendiri berakar sejak tahun 1300, diprakarsai Paus Bonifasius VIII. Seiring perjalanan waktu, periode perayaannya ditetapkan setiap 25 tahun, sebagaimana berlaku hingga kini.
Dalam prosesi penutupan, Paus Leo XIV melangkah ke ambang Porta Santa, berdoa dalam keheningan, lalu menutup daun pintu perunggu besar tersebut. Ia menegaskan bahwa meski Pintu Suci tertutup, pintu rahmat Allah tetap terbuka bagi umat manusia.
Penutupan Porta Santa menandai berakhirnya perjalanan jutaan “peziarah pengharapan” menuju simbol Yerusalem Baru, kota iman yang pintunya selalu terbuka bagi mereka yang mencari rahmat dan pembaruan hidup.
Dalam Misa Epifani, Paus Leo XIV menyerukan agar Gereja tetap menjadi rumah yang hidup, bukan monumen beku. Ia mengajak umat melanjutkan semangat Jubelium sebagai “generasi fajar baru”, berjalan bersama dalam harapan di tengah dunia yang dilanda krisis dan konflik.

Komentar