Warga Linge Terisolasi, Pasien Sesak Napas Terpaksa Diseberangkan Sungai
ASKARA - Krisis kesehatan pascabencana masih membayangi wilayah Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Keterisolasian wilayah membuat warga harus berjuang keras untuk mendapatkan layanan medis, bahkan dengan mempertaruhkan keselamatan saat menyeberangi sungai.
Seperti dialami Sudirman (55), warga Kampung Linge, yang menderita sesak napas dan harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Karena tidak adanya jembatan penghubung, warga terpaksa menyeberangkan Sudirman menggunakan getek atau rakit sederhana, dibantu masyarakat setempat dan Babinsa, menyusuri arus sungai yang cukup deras.
Kondisi tersebut menggambarkan situasi darurat kesehatan yang dihadapi warga Linge pascabencana. Hingga kini, wilayah Linge masih tergolong terisolasi, dengan akses paling memungkinkan hanya melalui jalur udara. Jalur darat belum dapat digunakan secara normal akibat rusaknya infrastruktur, terutama jembatan penghubung antarwilayah.
Masyarakat Kampung Linge dan Kemukiman Wihni Dusun Jamat berharap pemerintah segera membangun jembatan penghubung yang mengaitkan lima desa, yakni Desa Linge, Desa Jamat, Desa Reje Payung, Desa Delung Sekinel, dan Desa Kute Reje. Jembatan tersebut dinilai sangat vital, khususnya untuk akses layanan kesehatan dan kebutuhan darurat lainnya.
“Kami sangat berharap ada solusi cepat dari pemerintah. Kondisi sekarang sangat menyulitkan, apalagi saat musim hujan, akses benar-benar berbahaya,” ujar Zai, mantan Reje Kampung Linge.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Baret ICMI Aceh, Zam Zam Mubarak, menilai krisis kesehatan di Aceh Tengah memerlukan penanganan cepat, terukur, dan terkoordinasi. Menurutnya, kondisi darurat saat ini telah memasuki fase kritis dan berpotensi berkembang menjadi krisis kemanusiaan jika tidak segera ditangani.
“Kolaborasi antara relawan kesehatan dan pemerintah mutlak diperlukan. Pemerintah pusat harus memperkuat koordinasi, termasuk menghadirkan layanan kesehatan di wilayah terisolasi serta membangun klinik darurat dengan peralatan medis yang memadai,” tegas Zam Zam, Senin (29/12).
Baret ICMI Aceh menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kesehatan warga yang hingga kini masih berjuang dalam keterbatasan.

Komentar