Selasa, 21 Juli 2026 | 11:14
TRAVELLING

Kisah Peziarah dari Blitar di Puing-Puing Gereja Katedral St. Yohanes, Efesus

Kisah Peziarah dari Blitar di Puing-Puing Gereja Katedral St. Yohanes, Efesus
Thomas Sukar dari Blitar di Puing-Puing Gereja Katedral St. Yohanes, Efesus, Turki (Dok Thomas)

ASKARA - Perjalanan rohani seorang umat Katolik asal Blitar, Thomas Sukar, meninggalkan kesan mendalam ketika ia menapakkan kaki di salah satu situs Kristen tertua di dunia: Gereja Katedral St. Yohanes di Efesus, Turki, yang kini hanya menyisakan puing-puing sejarah.

Thomas, yang sudah lama memimpikan ziarah ke tanah para rasul, mengaku merasakan getaran batin begitu memasuki area reruntuhan gereja kuno yang diyakini sebagai tempat Rasul Yohanes menghabiskan masa akhir hidupnya. Di tengah tiang-tiang patah, batu-batu besar yang berserakan, dan bekas fondasi gereja megah yang pernah berdiri lebih dari 1.400 tahun lalu, ia merasakan seolah sedang berjalan menembus waktu.

“Saya membayangkan bagaimana para umat dahulu berkumpul di sini. Meski tinggal puing-puing, suasananya seperti masih hidup. Tiba-tiba saya merasa sangat dekat dengan sejarah gereja pertama kami,” tutur Thomas, menggambarkan keheningan yang menyergapnya.

Bagi Thomas, menyaksikan Gereja Katedral St. Yohanes bukan sekadar melihat bangunan tua, melainkan sebuah perjalanan iman. Reruntuhan itu menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kekristenan, mulai dari kejayaan Byzantium hingga jatuh bangunnya berbagai peradaban yang pernah menguasai Efesus.

Ia juga mengatakan bahwa meski bangunan utama telah runtuh, aura kesuciannya tetap terasa. “Saya berdiri lama di tengah bekas altar. Rasanya seperti ada panggilan untuk lebih menghargai iman yang diwariskan para rasul,” ungkapnya, Senin (8/12).

Thomas berharap semakin banyak umat Katolik Indonesia yang mendapat kesempatan berziarah ke situs-situs awal perkembangan Gereja, agar lebih memahami akar sejarah iman mereka. “Kadang kita lupa bahwa agama yang kita hayati hari ini dibangun dari perjalanan panjang penuh perjuangan. Datang ke Efesus membuat saya lebih bersyukur dan lebih menghargai iman yang saya jalani,” tutupnya.

Kisah Thomas menjadi pengingat bahwa di balik puing-puing masa lalu, tersimpan kekuatan spiritual yang tidak pernah benar-benar hilang.

 

 

Komentar