Minggu, 07 Juni 2026 | 19:54
Ruang Menulis

Cerpen: Lima Rasa Dalam Bayang Malam Macau

Cerpen: Lima Rasa Dalam Bayang Malam Macau
Ilustrasi

ASKARA - Di tengah Kota Macau yang tetap benderang meski larut malam menelan langkah pejalan, Bruno Santos meracik koktail lima bumbu yang ia ciptakan untuk seseorang yang tak pernah kembali. Bagi banyak orang, minuman itu sekadar pengalaman rasa. Bagi Bruno, itu adalah doa yang tak selesai. Namun malam ini, seorang perempuan misterius membuatnya menyesali setiap aroma yang pernah ia simpan.

Macau larut dalam cahaya yang memantul di jalanan basah, seolah hujan tipis sengaja menyiapkan sebuah panggung rahasia. Lampu kasino berkelip dari kejauhan, namun di gang tua Rua das Estalagens, Black Lotus berdiri tenang bagai rahasia yang menunggu ditemukan. Bar itu kecil, sempit, namun hangat oleh aroma rempah yang tidak pernah benar benar hilang.

Bruno Santos memoles meja kayu gelap yang mulai aus di tepinya. Ia menghirup dalam dalam kotak kecil berisi cassia, cengkih, lada Sichuan, adas manis, dan bunga lawang. Lima bumbu itu bukan sekadar bahan minuman, tetapi kompas masa lalunya. Setiap butir rempah mengingatkan pada satu hal, seseorang yang membuatnya meninggalkan Lisbon dengan luka yang ia sembunyikan.

Ia mencium kembali aroma itu. Cassia hangat. Cengkih tajam. Lada Sichuan menggigit. Adas manis manis yang samar. Bunga lawang seindah kenangan yang sulit ditinggal. Itulah lima tahap hidupnya, lima rasa yang ia percaya dapat merangkum Macau dan seluruh kepedihan dirinya.

Malam mulai ramai. Pengunjung duduk di kursi bar yang berderet, memesan minuman sambil bertukar tawa, mengusir kesepian. Bruno tersenyum sopan kepada setiap tamu meski pikirannya sering melayang. Sudah hampir sepuluh tahun ia membuat Five Lights of Macau, berharap suatu hari seseorang masuk dan berkata bahwa rasa minumannya, rasa lima bumbu itu, mengingatkannya pada rumah yang sama.

Namun malam itu seseorang benar benar datang.

Seorang perempuan bergaun hitam memasuki bar ketika jam menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit. Langkahnya senyap meski lantai kayu biasanya berderit setiap diinjak. Ia duduk di kursi paling ujung, posisi yang biasanya dipilih seseorang yang ingin menghilang tanpa benar benar lenyap.

Bruno memperhatikannya tanpa menatap langsung. Perempuan itu menunduk, jari jarinya mengetuk lekuk gelas kosong seakan menghitung sesuatu yang hanya ia pahami. Ketika Bruno mendekat, ia mengangkat wajah, pucat, simetris, namun menyimpan sesuatu yang nyaris tidak bisa didefinisikan. Sebuah luka kecil di bawah mata kirinya seperti garis waktu yang pernah menyakitinya.

“Ada yang bisa saya buatkan” tanya Bruno.

Perempuan itu menatapnya lama, tatapannya tembus seperti mencoba menilai seseorang bukan dari wajahnya melainkan dari apa yang ia sembunyikan.

“Five Lights” jawabnya lirih.

Bruno terpaku. Tidak ada menu tertulis. Tidak ada poster. Hanya pelanggan lama atau orang yang pernah diperkenalkan secara pribadi yang mengetahui nama minuman itu.

Ia menyiapkan bumbu bumbu dengan hati hati. Ketika ia menumbuk cassia dan mencampurnya, aroma hangat mengisi udara. Perempuan itu menutup mata, seperti menyerap sesuatu lebih dalam daripada sekadar bau rempah.

Ketika koktail disajikan, perempuan itu menyesap perlahan. Ada helaan napas panjang, nyaris seperti seseorang yang menemukan kembali potongan hidup yang hilang.

“Rasanya seperti kembali pada sesuatu yang pernah kubiarkan pergi” katanya.

Kata katanya menghantam Bruno. Karena itulah kalimat yang ia ucapkan bertahun tahun lalu kepada Ana Santos, satu satunya perempuan yang mencintainya tanpa syarat, dan yang ia tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan.

“Apakah Anda pernah tinggal di Portugal” tanya Bruno, setengah ragu.

Perempuan itu menggeleng pelan. “Aku tidak pernah ke sana”
Kemudian ia menambahkan, “Tetapi aku mengenal seseorang yang berasal dari sana”

Ada sesuatu dalam suaranya yang dingin, nyaris seperti peringatan.

Malam merayap perlahan. Pengunjung mulai pulang satu demi satu. Namun perempuan itu tetap di kursinya, memandangi sisa minumannya seakan menimbang sesuatu yang berat. Jam melewati tengah malam. Lampu bar meredup.

“Aku ingin bertanya” katanya tiba tiba.
“Silakan” jawab Bruno.
“Minuman ini rasanya seperti dibuat untuk seseorang, bukan untuk pelanggan”

Bruno tidak bisa berbohong. “Ya. Untuk seseorang yang tidak pernah kembali”

“Dan kau masih mencarinya”

“Setiap hari” jawabnya jujur.

Perempuan itu tersenyum, tetapi bukan senyum yang membawa damai. Senyumnya dingin, seperti seseorang yang telah lama berdamai dengan luka yang tidak bisa sembuh.

“Aku punya cerita” katanya. “Tentang seorang perempuan yang menunggu seseorang bernama Bruno Santos sampai akhir napasnya”

Suasana bar seketika menjadi beku. Bruno mematung.

Perempuan itu meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah medali kecil, medali yang hanya dimiliki dua orang, Bruno dan adiknya Ana.

Bruno hampir tidak bisa bernapas. “Dari mana kau mendapat itu”

Perempuan itu menatapnya, tak berkedip. “Kakakku memberikannya padaku sebelum ia meninggal”

Dunia Bruno runtuh dalam sekejap. “Ana meninggal”

Perempuan itu mengangguk. “Ia menunggumu. Bahkan pada hari terakhirnya, ia masih berharap kau datang”

Bruno menunduk, memegangi meja untuk menahan dirinya. Kesalahan yang ia kubur selama bertahun tahun menyeruak keluar, menuntut pengakuan.

Namun ketika ia mengangkat wajah, perempuan itu sudah berdiri.

“Aku datang malam ini bukan untuk marah” katanya. “Aku hanya ingin melihat apakah kau benar benar ada. Kakakku selalu berkata bahwa kau bukan pelarian. Bahwa suatu hari kau akan kembali”

Bruno menatap kotak bumbunya, mencoba mencari pegangan.
Perempuan itu mengambil napas dalam dalam.

“Aku harus pergi” katanya lalu meletakkan sesuatu di meja.
“Ini milikmu”

Ketika ia keluar, hujan makin deras. Bruno menatap pintu yang perlahan menutup. Suara langkahnya menghilang dalam gelap.

Hanya ketika ia kembali ke meja, ia melihat apa yang perempuan itu tinggalkan.

Bukan medali.
Bukan foto.
Melainkan sepucuk surat tua dengan tulisan tangan Ana.

Bruno membuka dengan tangan gemetar.

Tulisan itu jelas dan tidak tergesa, tetapi tanggalnya membuat darah Bruno berhenti mengalir.

Surat itu ditulis dua bulan setelah Ana dinyatakan meninggal.

Dan kalimat terakhirnya membuat jantung Bruno berhenti sejenak:

“Jika seseorang membawakan surat ini padamu, itu berarti aku masih mencarimu. Jangan takut ketika kau bertemu bayanganku”

Bruno menatap pintu bar, pintu yang masih berayun pelan.

Hujan menelan suara dunia luar.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Macau, aroma lima bumbu tidak menghadirkan kehangatan.

Yang tersisa hanya satu rasa:

Takut.

(Dwi Taufan Hidayat)

Komentar