Jurang Daya Beli Global Menganga Lebar
ASKARA - Perbandingan gaji bulanan antara negara maju dan Indonesia kembali memunculkan pertanyaan penting tentang daya beli dan kualitas hidup. Swiss dan Amerika Serikat mampu membeli lebih dari seribu burger dengan gaji sebulan sedangkan Indonesia hanya sekitar seratusan. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masalah pendapatan bukan sekadar nominal tetapi terkait struktur ekonomi dan biaya hidup yang berjalan tidak seimbang.
Dominasi negara Eropa dalam daftar gaji bulanan tertinggi dunia kembali terlihat ketika Swiss menempati posisi pertama dengan pendapatan sekitar Rp137 juta per bulan seperti diberitakan CEOWORLD Magazine melalui Kompas pada 28 November 2025. Tingginya pendapatan itu bukan sekadar simbol kemakmuran namun juga konsekuensi logis dari biaya hidup yang sangat tinggi yang harus ditanggung masyarakatnya.
Luksemburg dan Amerika Serikat menyusul dengan gaji sekitar Rp100 jutaan per bulan sebagaimana dikutip Kontan pada 27 November 2025. Kedua negara tersebut memiliki tingkat produktivitas tenaga kerja yang tinggi industri berteknologi maju serta stabilitas ekonomi jangka panjang yang menopang struktur pengupahan. Hal yang sama belum sepenuhnya terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia yang masih berkutat dalam masalah pemerataan pendapatan.
Indonesia berada pada peringkat ke seratus delapan belas dengan gaji rata rata sekitar Rp7,5 juta per bulan sebagaimana dilaporkan Kompas pada 28 November 2025. Data ini sontak menimbulkan perdebatan publik karena upah minimum tertinggi saja belum mencapai Rp6 juta. Banyak pekerja di kota besar hanya memperoleh Rp3 hingga Rp4 juta sehingga rata rata nasional Rp7,5 juta dinilai tidak mencerminkan realitas mayoritas pekerja.
Ketimpangan pendapatan di Indonesia juga dijelaskan oleh berbagai laporan ekonomi internasional yang menunjukkan bahwa kelompok berpenghasilan sangat tinggi dapat menarik naik rata rata gaji nasional seperti disampaikan BBC Indonesia pada 12 Mei 2025. Struktur ini menimbulkan kesenjangan mencolok ketika jumlah pekerja dengan penghasilan harian dan pekerja sektor informal masih sangat besar.
Kesenjangan semakin terlihat jelas ketika gaji dibandingkan dengan daya beli. Berdasarkan kalkulasi sederhana Swiss dapat membeli sekitar seribu tujuh belas burger setiap bulan Amerika Serikat seribu tiga puluh dua burger dan Indonesia hanya seratus tujuh puluh dua burger seperti dilaporkan Kompas pada 29 November 2025. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa meskipun harga di Indonesia terlihat lebih murah namun gaji rendah tetap menjadi faktor pembatas utama daya beli masyarakat.
Komentar publik yang menyebut Swiss sebagai negara tanpa pilihan hidup sederhana seperti tinggal di desa dengan biaya murah sesungguhnya tidak berlebihan. Banyak laporan menyebut biaya air listrik kebersihan dan perawatan lingkungan di Eropa sangat tinggi yang menjadikan gaji besar sebagai kebutuhan bukan kemewahan seperti dijelaskan DW Indonesia pada 18 Juni 2025. Inilah yang membuat struktur upah negara kaya tampak wajar dalam konteks biaya hidup mereka.
Sebaliknya Indonesia menghadapi ironi karena biaya hidup terutama di kota besar terus meningkat hampir menyerupai standar negara berkembang yang lebih maju sementara kenaikan gaji berjalan sangat lambat. CNN Indonesia pada 20 Oktober 2025 menyebut bahwa beban perumahan transportasi dan pangan meningkat dalam lima tahun terakhir sehingga ruang untuk menabung atau berinvestasi semakin sempit bagi pekerja kelas menengah bawah.
Dalam diskursus perpajakan publik menilai bahwa beban yang diberikan pemerintah tidak sebanding dengan tingkat kesejahteraan. Tempo pada 5 November 2025 memberitakan bahwa basis pajak terus diperluas namun tidak diiringi kebijakan yang cukup protektif bagi pekerja berpenghasilan rendah. Hal ini memperkuat anggapan bahwa masyarakat dipaksa menanggung beban negara tanpa mendapat peningkatan layanan publik yang memadai.
Perbandingan biaya hidup satu keluarga inti juga memperlihatkan jurang yang tidak mudah ditutup. Berdasarkan kompilasi berbagai laporan biaya hidup tahun 2025 Swiss memerlukan sekitar Rp93 juta per bulan untuk keluarga dengan dua anak mencakup sewa apartemen makanan transportasi dan utilitas. Di Amerika Serikat terutama kota besar biaya hidup keluarga mencapai sekitar Rp65 juta per bulan. Sementara di Belanda satu keluarga membutuhkan sekitar Rp58 juta per bulan. Sedangkan Indonesia untuk keluarga yang tinggal di Jakarta membutuhkan sekitar Rp20 juta per bulan. Data ini dikutip dari laporan pasar sewa Eropa melalui The Guardian pada 14 Juli 2025 dan survei biaya hidup urban Indonesia melalui Kompas pada 30 November 2025.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa sekalipun biaya hidup di Indonesia jauh lebih rendah jurang antara penghasilan dan kebutuhan dasar jauh lebih lebar dibanding negara negara dengan gaji tinggi. Di Swiss dan Amerika Serikat proporsi pendapatan terhadap biaya hidup masih relatif seimbang sedangkan di Indonesia sebagian besar keluarga harus menghabiskan hampir seluruh pendapatannya untuk kebutuhan pokok.
Dalam konteks ketenagakerjaan para ekonom menilai bahwa Indonesia belum mampu meningkatkan produktivitas di sektor industri manufaktur dan teknologi informasi yang menjadi mesin pertumbuhan gaji di negara negara maju. Lembaga penelitian ekonomi dalam laporan yang dikutip Kompas pada 30 November 2025 menyebut bahwa Indonesia harus menggeser struktur ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi agar upah dapat meningkat secara berkelanjutan.
Dengan melihat seluruh data tersebut daftar negara bergaji tinggi bukan hanya menunjukkan siapa kaya dan siapa tidak melainkan membuka tabir besar tentang struktur ekonomi nasional daya beli masyarakat dan kualitas hidup yang sebenarnya. Indonesia memiliki pekerjaan rumah panjang bukan hanya menaikkan UMR tetapi membenahi produktivitas industri daya saing tenaga kerja dan reformasi pengupahan.
Jika semua itu tidak dilakukan jurang daya beli antara Indonesia dan negara maju akan tetap menganga dan semakin banyak warga hanya mampu melihat daftar negara kaya sebagai perbandingan tanpa harapan. Tantangannya bukan mengejar Swiss dalam angka gaji tetapi menciptakan kehidupan yang lebih layak dan seimbang bagi mayoritas rakyat Indonesia. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar