Kardinal Suharyo Pimpin Misa di St. Petrus Batam, Warga TNI-Polri Hadir dalam Perayaan Kudus
ASKARA - Suasana khidmat menyelimuti Gereja Santo Petrus Batam ketika Uskup Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), Kardinal Ignatius Suharyo, memimpin misa kudus bersama umat dan komunitas TNI-Polri. Kehadirannya menjadi momen istimewa bagi umat Katolik di Batam yang jarang mendapatkan kesempatan mengikuti misa dipimpin langsung oleh pemimpin tertinggi OCI.
Misa juga dihadiri Wakapolda Kepri Brigjen Pol Dr. Anom Wibowo, S.I.K., M.Si., yang disambut hangat oleh umat. Dalam misa tersebut, Kardinal didampingi jajaran imam OCI dan para imam tamu, yaitu, Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Romo Vikjen Anton Moa, Romo Vikep Indrajati, Romo Pramodo, Romo Yonas, Romo Philips, Romo Ipda Octavianus Pelagian Ranta, Romo Paschalis Saturnus.
Tokoh TNI-Polri dan purnawirawan turut hadir, antara lain: Irjen Pol (Purn) Drs. Heribertus Dahana R., S.H., M.Si.; Laksda TNI (Purn) AR Agus Santoso; Kolonel Inf. Sudung Hasiholan C.H.; Mayor Laut (P) Paulus Angandi Arum; AKBP (Purn) Petronela Rosena Hasan.
Dalam homilinya, Kardinal Suharyo mengangkat tema mengenai "kepenuhan waktu", sebuah istilah yang ia gunakan untuk menggantikan pemahaman keliru tentang "akhir zaman". Ia menjelaskan, rencana keselamatan Allah mencapai puncaknya bukan dengan kehancuran, melainkan dengan kesempurnaan kasih Allah yang hadir dalam sejarah manusia.
Ia juga menguraikan perjalanan tahun liturgi Gereja, mulai dari Adven hingga Kristus Raja Semesta Alam, yang menjadi lingkaran pembentukan iman umat. Kardinal menegaskan bahwa Gereja saat ini hidup dalam masa setelah turunnya Roh Kudus, masa yang mengajak umat untuk terus-menerus memilih yang baik dan benar.
"Tanda bahwa kita dibimbing Roh Kudus tampak dari pilihan-pilihan kita. Setiap kali kita memilih kebaikan, meski sulit, di situlah Roh Kudus bekerja," ujarnya.
Kardinal mengingatkan bahwa kesucian tidak selalu hadir melalui tindakan besar, melainkan melalui pilihan sederhana yang setia. Ia mencontohkan Beato Carlo Acutis, remaja 15 tahun yang mencapai kesucian melalui pilihan hidup yang bersahaja namun konsisten.
Ia juga mengutip contoh Paus Fransiskus tentang langkah kecil menuju kesempurnaan kasih: menolak bergosip, mendengarkan anak dengan sabar, berdoa saat gelisah, hingga menyapa dan menolong sesama yang membutuhkan.
"Setiap langkah menuju kebaikan adalah perjalanan menuju kesucian," tegasnya.
Sebagai penutup, Kardinal Suharyo menyampaikan kisah kebijaksanaan dari relief Candi Mendut tentang burung berkepala dua yang hancur karena ketidakadilan. Kisah itu digunakan sebagai pesan agar umat membangun budaya berbagi dan saling menopang.
"Ketika kita rela berbagi, kita ikut membangun budaya kasih yang menjadi tanda hadirnya karya keselamatan Allah," ujarnya.
Perayaan misa ditutup dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Kehadiran Kardinal Suharyo, para imam OCI, serta tokoh-tokoh TNI-Polri menjadikan misa ini sebagai peristiwa bersejarah bagi umat Katolik di Batam, memperteguh semangat persaudaraan dan iman dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar