Senin, 13 Juli 2026 | 00:59
NEWS

Psikiater Zulvia: Bullying Jangan Lagi Dianggap Hanya Candaan

Psikiater Zulvia: Bullying Jangan Lagi Dianggap Hanya Candaan
Pengamat yang juga psikiater dari PDSKJI, dr. Zulvia Oktanida Syarif . (dok KWP)

ASKARA-Perundungan atau bullying yang marak belakangan ini dan memakan korban sangat erat kaitannya dengan kesehatan mental.

Demikian penilaian pengamat yang juga psikiater dari PDSKJI, dr. Zulvia Oktanida Syarif pada diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema "Stop Bullying: DPR Ramu Formulasi Konkret Atasi Persoalan Mental Dunia Pendidikan", di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Zulvia menyayangkan terjadinya perundungan di lingkungan yang seharusnya aman, yaitu lingkungan pendidikan.

"Kami mengamati bahwa bullying ini sangat erat dengan kesehatan mental karena memang dampaknya sangat signifikan terhadap perkembangan otak seorang anak remaja," katanya.

Sebagai seorang psikiater, pihaknya melihat seorang anak usia sekolah atau remaja itu sedang dalam masa perkembangan dan masa krisis identitas diri.

"Tekanan sosial bagi anak remaja menjadi sangat tinggi dan ketika ada tidak penerimaan dari lingkungannya disitulah mereka mulai mengalami berbagai issue bullying sendiri.Dampaknya bisa sangat tinggi yang bisa mengarah kegangguan kecemasan sampai gangguan depresi bahkan yang fatal adalah depresi berat sampai bunuh diri," jelas psikater berparas cantik ini.

Pihaknya mencatat ada beberapa kasus di mana seorang anak mengalami bully dan itu berujung kepada depresi berat sampai mengakhiri hidupnya.

Zulvia menjelaskan kalau bullyling sendiri ada berbagai jenis mulai dari secara kekerasan fisik dan verbal. Dan yang marak sekarang adalah cyberbully.

.

"Lewat cyberbully mereka mendapatkan komentar negatif di media sosial atau dikucilkan dari grup secara online dan itu juga menjadi bulllying tersendiri,* katanya.

Nah dari persoalan ini, menurut Zulvia yang penting adalah bagaimana pihak sekolah mencegah terjadinya bullying dan menindaklanjutinya secara serius. Pihak sekolah maupun orangtua siswa, katanya lagi jangan menganggap bullying sebagai bentuk kenakalan biasa dan candaan belaka

"Jadi harus ditanggapi secara serius karena kita tidak tahu dampak mental terhadap seorang individu itu seperti apa karena faktornya sangat beragam terutama anak-anak yang rentan artinya mereka datang dengan kondisi misalnya kondisi genetika tertentu, kondisi fisik tertentu menjadi objek bullying," jelas Zulvia. (dry)

Komentar