Luhut B. Panjaitan di Vatikan: AI Bukan Monster, Melainkan Alat untuk Kemanusiaan
ASKARA - Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Luhut Binsar Panjaitan menegaskan bahwa artificial intelligence (AI) bukanlah ancaman, melainkan alat yang harus tetap berada dalam kendali manusia demi meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Pesan tersebut ia sampaikan saat membuka Konferensi Algorethics and Governance yang digelar Scholas Occurrentes di Saint John Paul II Auditorium, Pontifical Universita Urbaniana, Vatikan.
Konferensi internasional itu dihadiri peserta dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Brasil, Argentina, Spanyol, Albania, Mozambik, Ukraina, Polandia hingga Italia. Scholas Occurrentes sendiri merupakan yayasan kepausan yang berakar dari gerakan pendidikan bagi anak-anak di kawasan miskin Buenos Aires atas prakarsa Kardinal Jorge Mario Bergoglio, yang kini menjadi Paus Fransiskus.
AI Harus Tetap Menjadi Alat untuk Manusia
Dalam pidatonya, Luhut menekankan bahwa masa depan umat manusia akan sangat dipengaruhi inovasi teknologi, termasuk AI. Karena itu, teknologi harus dikembangkan dengan menempatkan martabat manusia sebagai pusatnya.
Ia mengutip pernyataan Paus Fransiskus dalam konvensi internasional Juni 2024, bahwa AI adalah alat yang kuat untuk kebaikan tetapi harus digunakan secara etis demi kebaikan bersama.
“AI membawa potensi besar bagi penemuan, pembelajaran, dan kreativitas manusia. Namun teknologi ini juga bisa mendistorsi kebenaran dan memperlebar ketidakadilan jika tidak dibangun di atas tujuan etis,” ujarnya.
Menurut Luhut, AI harus memperkuat hubungan antarmanusia, menambah kesempatan, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. “AI harus menerangi potensi manusia, bukan menutupinya,” tegasnya.
Contoh dari Indonesia: Pendidikan dengan Metode Gasing
Luhut juga mengangkat Metode GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan) karya Yohanes Surya sebagai salah satu bentuk nyata transformasi pendidikan di Indonesia. Metode ini memungkinkan anak mempelajari matematika dengan cara bertahap dan menyenangkan.
Ia mencontohkan keberhasilan metode tersebut saat diterapkan di Tolikara, Papua, pada 2008. Siswa yang awalnya tidak mampu menghitung operasi dasar dibina enam bulan di Jakarta dan berhasil menguasai seluruh materi setara enam tahun pendidikan SD.
Kini metode tersebut telah digunakan di banyak daerah, dari Papua hingga Sumatra, membuat pendidikan menjadi proses transformasi, bukan sekadar penyampaian informasi.
Seruan Global: Pengembangan AI Berpusat pada Manusia
Luhut sejalan dengan pesan Paus Fransiskus yang meminta agar pengembangan AI tetap berpusat pada manusia. Ia menyerukan beberapa prinsip penting:
- menjaga martabat manusia dalam seluruh sistem AI,
- memastikan inklusivitas agar setiap komunitas bisa berpartisipasi dalam era AI,
- memperkuat pendidikan sebagai dasar kemajuan,
- mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan teknologi,
- memprioritaskan kelompok rentan dan miskin dalam pembangunan teknologi.
Mengakhiri pidatonya, Luhut mengatakan bahwa berbagai konferensi dan diskusi internasional harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Ia menyebut negara lain bisa belajar dari contoh Indonesia dalam penerapan metode pembelajaran seperti Gasing.
“AI adalah transformasi besar dalam sejarah manusia, tetapi ia harus tetap menjadi alat di tangan manusia,” tegas Luhut.

Komentar