Senin, 13 Juli 2026 | 04:49
NEWS

Ahli Medsos: Masyarakat Termakan Narasi Menyesatkan

Ahli Medsos: Masyarakat Termakan Narasi Menyesatkan
Saksi saat memberikan kesaksian disidang MKD. (Dok KWP)

ASKARA-Penyebab terjadinya gerakan demonstrasi dan penjarahan terhadap kediaman anggota DPR RI yang terjadi beberapa waktu lalu karena adanya narasi negatif di media sosial (medsos).

Demikian penilaian Ahli media sosial, Ismail Fahmi, saat menjadi saksi dalam sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) atas kasus lima anggota DPR RI nonaktif di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 3 November 2025.

Pihaknya meneliti adanya video penggalan anggota DPR RI yang joget-joget saat Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD pada 15 Agustus 2025. Terlebih, dalam video dinarasikan Legislator joget karena kenaikan gaji.

"Dalam kasus kemarin yang kita lihat masyarakat itu tersentuhnya di mana. Yang saya lihat bukan soal angka (kenaikan gaji), tapi joget-joget pas naik gajinya," kata Ismail.

Pihaknya menilai narasi kenaikan gaji di tengah kondisi yang sulit sangat mudah memantik emosi publik. Sekalipun nilai yang dinarasikan kecil, namun hal itu menurut Ismail yang membuat masyarakat bergerak melakukan aksi besar-besaran.

"Mau Rp1 juta kek, Rp3 juta. Rp3 juta buat saya kecil sekali, tapi buat masyarakat itu sudah kenaikan," tegasnya.

Ismail justru menegaskan narasi yang dibangun di media sosial seolah sengaja dibangun untuk memantik emosi masyarakat. Untuk itu, pihaknya berharap DPR RI melakukan klarifikasi terkait narasi menyesatkan yang dibangun di media sosial tersebut.

"Nah ini yang nempel di masyarakat, itu harus diluruskan. Misalnya ‘jogetnya itu bukan karena naik’ tetapi emosi dilawan dengan emosi, dengan faktual," kata dia lagi.

Kalailu dilihat faktanya apa ada yang menyanyi, misalnya gitu. Ada yang dari daerah kita hargai kita senang mereka disorot," ujar Ismail.

Tak hanya itu, Ismail mendorong agar DPR RI menyiapkan klarifikasi yang benar-benar menyentuh emosi masyarakat. Salah satu contohnya, spontanitas berjoget karena menghormati pemain musik dan penari saat tampil dalam Sidang Tahunan Parlemen.

"Jadi ketika klarfikasi kita siapin juga klarifikasi yang menyentuh emosi. Jadi instead of emosinya itu gara-gara naik gaji, kita balik emosinya karena menghargai, pasti masyarakat ada yang mendukung nanti," kata Ismail. (dry)

Komentar