Kamis, 04 Juni 2026 | 08:30
NEWS

Menjaga Warisan di Jantung Salatiga

Menjaga Warisan di Jantung Salatiga
Foto bersama (uksw)

ASKARA - Usai membuka 2025 International Congress of the UISPP di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, M.Sc., melakukan kunjungan kerja ke sejumlah bangunan bersejarah di Kota Salatiga, Senin (27/10/2025). Dalam kunjungan itu, Fadli menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya sebagai fondasi identitas bangsa di tengah arus modernisasi.

Setelah membuka acara 2025 International Congress of the UISPP (International Union of Prehistoric and Protohistoric Sciences) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, M.Sc., melanjutkan agenda dengan meninjau sejumlah bangunan bersejarah di Kota Salatiga, Senin (27/10/2025).

Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon didampingi oleh Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG., beserta istri dan sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Rangkaian kegiatan dimulai dari Rumah Dinas Wali Kota, berlanjut ke Gedung Pakuwon, dan berakhir di Gedung Papak  tiga bangunan yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Salatiga dari masa kolonial hingga kini.

Kunjungan pertama dilakukan di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, bangunan berarsitektur kolonial dengan pilar-pilar besar dan jendela kayu tinggi yang masih terjaga keasliannya. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Robby Hernawan memaparkan rencana Pemerintah Kota untuk mengubah rumah dinas itu menjadi Museum Sejarah Kota Salatiga. Museum tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi publik sekaligus wadah pelestarian nilai-nilai kebudayaan lokal.

“Rumah dinas ini bukan sekadar bangunan, tetapi bagian dari perjalanan panjang kota ini. Kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya memamerkan benda bersejarah, tapi juga menuturkan kisah tentang manusia dan kebudayaan Salatiga,” ujar Robby Hernawan dalam sambutannya.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut positif inisiatif Pemerintah Kota. Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan program nasional pelestarian warisan budaya yang menekankan pentingnya transformasi situs bersejarah menjadi ruang publik yang hidup dan mendidik.

“Bangunan bersejarah bukan untuk dikunci dan dilupakan, tapi harus dihidupkan kembali agar generasi muda dapat memahami akar sejarah bangsanya. Salatiga memiliki potensi besar menjadi kota contoh dalam pengelolaan warisan kolonial yang beradab dan edukatif,” kata Fadli Zon.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Gedung Pakuwon, salah satu bangunan kolonial tertua di Salatiga yang dulu berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan pada masa Hindia Belanda. Gedung ini juga menjadi lokasi penting penandatanganan Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757, yang merupakan kelanjutan dari Perjanjian Giyanti antara Kasunanan Surakarta dan Pangeran Mangkubumi.

Dalam peninjauan itu, Fadli Zon mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Salatiga dalam mempertahankan keaslian struktur Gedung Pakuwon. Ia menilai keberadaan bangunan tersebut sebagai simbol kesinambungan sejarah dan diplomasi Jawa masa lampau. “Perjanjian Salatiga adalah titik penting dalam sejarah politik dan kebudayaan Nusantara. Di sinilah lahir harmoni baru antara tradisi, kekuasaan, dan peradaban,” ujarnya.

Kunjungan berakhir di Gedung Papak, bangunan bersejarah lain yang kini menjadi Kantor Wali Kota Salatiga. Gedung ini dulunya difungsikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda dan hingga kini masih mempertahankan fasad serta detail arsitektur aslinya, termasuk bentuk atap, kusen jendela, dan ornamen khas Eropa abad ke-19.

Dalam peninjauan terakhir tersebut, Fadli Zon menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam merawat situs bersejarah. Ia menyebut pelestarian tidak hanya soal fisik bangunan, tetapi juga bagaimana masyarakat memahami nilai di baliknya.

“Warisan budaya adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Tugas kita memastikan jembatan itu kokoh, agar generasi mendatang tidak kehilangan arah dan jati dirinya,” tutur Fadli.

Kunjungan kerja Menteri Kebudayaan ini menjadi momentum penting bagi Kota Salatiga untuk menegaskan perannya sebagai kota bersejarah dengan kekayaan budaya yang patut dijaga. Pemerintah Kota berencana menindaklanjuti arahan tersebut dengan menyusun masterplan pelestarian cagar budaya yang terintegrasi, mencakup dokumentasi, konservasi, dan revitalisasi bangunan tua di wilayahnya.

Dengan langkah ini, Salatiga diharapkan tidak hanya menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi sejarah dan kebudayaan yang terus bernapas di tengah perkembangan zaman. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar