Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33
Ruang Menulis

Cerpen: Saat Luka Belajar Bernapas Sendiri

Cerpen: Saat Luka Belajar Bernapas Sendiri
Ilustrasi

ASKARA - Di hadapan dunia, ia tampak tenang seperti laut di pagi hari. Padahal di dalam dadanya badai terus berputar. Ia tersenyum bukan karena bahagia, tapi karena sudah lelah menjelaskan kesedihan. Ia diam bukan karena pasrah, melainkan sedang belajar berdamai dengan hal-hal yang tidak bisa ia ubah meski dengan seluruh air matanya.

Rina duduk di tepi jendela kamarnya, menatap langit sore yang jingganya mulai memudar. Angin membawa aroma tanah basah, dan dari kejauhan terdengar suara azan magrib yang menggema lembut. Ia menghela napas pelan, seperti mencoba melepaskan sesuatu yang selama ini tertahan di dadanya. Di pangkuannya, sebuah buku harian terbuka dengan tulisan yang goyah:

“Aku tidak setenang itu. Aku hanya belajar mengendalikan perasaanku.”

Ia menulis kalimat itu bukan untuk menghibur diri, tapi untuk mengingatkan dirinya bahwa ketenangan tidak selalu berarti damai. Kadang, itu hanyalah bentuk tertinggi dari luka yang disembunyikan.

Sudah dua tahun berlalu sejak peristiwa yang membuat hidupnya retak. Ketika Dimas lelaki yang dulu bersumpah akan melindunginya dari segala kesedihan memilih pergi tanpa alasan yang ia mengerti. Pergi dengan perempuan lain yang dulu sering ia bantu, yang dulu ia anggap teman.

Rina masih ingat malam itu, hujan turun deras, dan Dimas menatapnya dengan mata yang tak lagi sama. “Maaf, Rin. Aku lelah,” katanya singkat. Tak ada penjelasan, tak ada amarah. Hanya sepotong kalimat yang meninggalkan lubang dalam hatinya.

Sejak saat itu, Rina berhenti bertanya pada semesta. Ia berhenti menuntut alasan mengapa cinta bisa berubah arah secepat bayangan di dinding. Ia hanya belajar menundukkan kepala dan menelan kenyataan bahwa tidak semua doa bekerja sesuai waktu yang kita inginkan.

Setiap malam, ia berbicara dengan Tuhan dalam diam. “Ya Allah, aku tidak seikhlas itu,” bisiknya pelan. “Aku hanya belajar menerima sesuatu yang tidak bisa aku ubah.”

Kadang, saat air mata jatuh di sajadahnya, ia merasa seolah Tuhan sedang mendengarkan, meski tidak menjawab. Ia mulai memahami bahwa doa tidak selalu mengubah keadaan kadang hanya menenangkan hati agar bisa menerima keadaan itu.

Suatu sore, setelah sekian lama menghindari kenangan, Rina memutuskan untuk pergi ke tempat yang dulu sering ia datangi bersama Dimas: taman kecil di pinggir kota, tempat mereka pernah berjanji akan menua bersama.

Langkahnya pelan. Setiap langkah seperti membawa berat yang sama dengan kenangan. Pohon flamboyan di tepi jalan masih berdiri di tempat yang sama, tapi daun-daunnya lebih rontok, seperti ikut menua bersamanya.

Di bangku yang dulu menjadi saksi tawa mereka, kini duduk sepasang kekasih muda yang tertawa renyah. Rina menatap mereka, bukan dengan iri, tapi dengan perasaan aneh antara hangat dan getir. Ia tersenyum kecil, lalu menulis sesuatu di catatan kecil yang selalu ia bawa:

“Aku tidak sepasrah itu. Aku hanya percaya setiap doa yang dilangitkan tidak akan kembali dengan sia-sia.”

Ia tahu, mungkin bukan Dimas yang akan kembali. Mungkin bukan cinta yang ia tunggu yang akan datang. Tapi ia percaya, Tuhan tidak akan membiarkan hati yang tulus berakhir sia-sia.

Malam itu, Rina pulang dengan langkah lebih ringan. Di rumah, ia membuka jendela dan membiarkan udara malam masuk. Ia merasa tenang, tapi bukan karena sudah sembuh. Ia hanya mulai bisa berdamai dengan luka-lukanya.

Ia menatap cermin, melihat dirinya sendiri dengan mata yang tak lagi sembab. “Kamu sudah cukup kuat, Rin,” katanya lirih. “Tidak untuk melupakan, tapi untuk terus berjalan.”

Hari-hari berikutnya berjalan biasa saja. Ia kembali bekerja, tertawa dengan rekan-rekannya, dan mulai menulis lagi. Sesekali, nama Dimas masih terlintas di benaknya, tapi tidak lagi membuat dadanya sesak. Ia sudah belajar satu hal: mencintai bukan berarti memiliki, dan kehilangan bukan akhir dari segalanya.

Waktu terus berjalan. Hingga suatu pagi, ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berdegup lebih cepat: Dimas.

Ia ragu-ragu menatap layar itu. Lima tahun sudah tanpa kabar, dan kini nama itu kembali muncul, seolah masa lalu ingin menguji ketenangan yang baru saja ia bangun.

Pesan itu singkat. “Rin, aku di kota. Boleh kita bertemu?”

Rina menatap pesan itu lama sekali. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia mengetik balasan: “Boleh.”

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di pinggir kota, tempat yang berbeda dari dulu. Dimas datang dengan wajah yang lebih tirus, mata yang tampak letih, dan senyum yang canggung.

“Aku minta maaf,” katanya tanpa basa-basi. “Hidupku berantakan. Aku kira aku bahagia, tapi ternyata aku salah.”

Rina hanya menatapnya. Dalam diam itu, ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi ia memilih untuk mendengarkan. Ia tahu, kadang keheningan lebih jujur daripada seribu kalimat balasan.

“Kalau waktu bisa diulang, aku akan memilih tetap bersamamu,” lanjut Dimas. “Kau orang paling sabar yang pernah aku kenal.”

Rina menunduk, menahan senyum pahit. “Tapi waktu tidak bisa diulang, Mas,” ucapnya pelan. “Dan aku sudah bukan perempuan yang dulu.”

Dimas terdiam. Ia menatap Rina dengan tatapan kehilangan yang sama seperti dulu, tapi kali ini posisi mereka telah terbalik. Rina yang dulu hancur kini menjadi orang yang tegar, sementara Dimas yang dulu meninggalkan kini menjadi orang yang ditinggalkan oleh takdir.

Rina berdiri, mengambil tasnya. “Aku tidak membencimu,” katanya lembut. “Aku hanya sudah belajar menerima sesuatu yang tidak bisa aku ubah.”

Lalu ia melangkah pergi, meninggalkan Dimas dengan secangkir kopi yang sudah dingin di depannya.

Di luar, hujan turun perlahan. Rina menatap langit yang kelabu dan tersenyum. Ia ingat kalimat terakhir dalam buku hariannya:

“Doa yang dilangitkan tak pernah sia-sia. Kadang Tuhan tidak mengabulkannya dalam bentuk yang kita mau, tapi dalam bentuk yang membuat kita sembuh.”

Ia melangkah melewati trotoar yang licin, merasa ringan seperti baru saja melepas beban yang selama ini ia bawa.

Dan di antara rintik hujan yang menari di bahunya, ia berbisik pelan pada dirinya sendiri, “Aku tidak setenang itu, tapi kini aku sudah tahu caranya bernapas dalam luka.” (Dwi Taufan Hidayat (

Komentar