Selasa, 21 Juli 2026 | 13:37
COMMUNITY

Suhu Panas Capai 37,6°C di Sejumlah Wilayah, BMKG Jelaskan Penyebab dan Prediksi hingga Awal November

Suhu Panas Capai 37,6°C di Sejumlah Wilayah, BMKG Jelaskan Penyebab dan Prediksi hingga Awal November
Ilustrasi Suhu Panas (IG:pandemictalks)

ASKARA - Cuaca panas ekstrem tengah melanda berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum mencapai 37,6 derajat Celsius, dipicu oleh gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia yang membawa udara kering dan panas. Fenomena ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa posisi gerak semu matahari pada bulan Oktober berada di selatan ekuator, sehingga wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima penyinaran matahari yang lebih intens. Kondisi tersebut diperparah dengan penguatan angin timuran (Monsun Australia) yang membawa massa udara kering, mengurangi pembentukan awan, dan memungkinkan radiasi matahari menembus langsung ke permukaan bumi.

"Posisi matahari saat ini menyebabkan wilayah Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Papua terasa lebih panas dibanding biasanya,” ujar Guswanto di Jakarta, Rabu (15/10).

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyebutkan bahwa suhu maksimum di atas 35°C terpantau merata di banyak daerah Indonesia. Daerah terdampak antara lain Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, serta Papua.

Pada 12 Oktober 2025, suhu tertinggi tercatat 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat). Keesokan harinya, 13 Oktober, suhu masih tinggi di Sabu Barat (NTT) dengan 36,6°C, dan kembali meningkat pada 14 Oktober dengan rentang 34–37°C di sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Papua, NTB, dan NTT.
Majalengka dan Boven Digoel bahkan mencatat rekor suhu tertinggi mencapai 37,6°C.

"Konsistensi suhu maksimum tinggi ini menandakan kondisi cuaca panas yang persisten, didukung dominasi massa udara kering serta minimnya tutupan awan,” jelas Andri.

Meski demikian, BMKG memprakirakan potensi hujan lokal akibat aktivitas konvektif masih mungkin terjadi pada sore hingga malam hari di sebagian Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan tubuh, mencukupi asupan cairan, dan menghindari paparan langsung sinar matahari pada siang hari.

"Tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca mendadak seperti hujan disertai petir dan angin kencang,” tambah Guswanto.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dan peringatan dini melalui situs resmi bmkg.go.id, akun media sosial BMKG, atau aplikasi Info BMKG agar dapat mengantisipasi dampak cuaca terhadap aktivitas sehari-hari.

Komentar