Cahaya Adi Wibowo: Gempa Adalah Pesan Alam di Bawah Terang Purnama
ASKARA - Fenomena alam yang terjadi awal Oktober ini menyisakan renungan. Di tengah purnama yang penuh cahaya pada 7 Oktober 2025, aktivitas gempa di Indonesia justru meningkat.
Berdasarkan data BMKG, dalam dua hari terakhir, 9 hingga 10 Oktober 2025, tercatat 88 kali gempa bumi mengguncang berbagai wilayah nusantara, dengan kekuatan antara magnitudo 1,3 hingga 4,6.
Menariknya, hari 9 Oktober menjadi puncak aktivitas seismik dengan 48 kali gempa, tersebar di Sumatra, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Meski tergolong ringan dan tidak menimbulkan kerusakan, rentetan getaran itu seolah menjadi pesan alam yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Pandangan berbeda datang dari Cahaya Adi Wibowo, seorang pemerhati spiritual alam. Ia menilai, gempa yang terjadi berdekatan dengan fase purnama bukan semata kebetulan, melainkan tanda keseimbangan energi bumi yang tengah berproses.
"Ketika purnama datang, bukan hanya laut yang pasang, tetapi juga energi di dalam bumi. Getaran kecil adalah cara alam menata keseimbangannya," ujar Cahaya Adi Wibowo kepada Askara, Sabtu (11/10).
Menurutnya, manusia perlu membaca setiap fenomena bukan dengan rasa takut, tetapi dengan kesadaran dan introspeksi.
"Gempa bukan hukuman. Ia adalah pengingat agar manusia selaras kembali dengan semesta," tambahnya.
BMKG sendiri memastikan seluruh gempa selama dua hari itu tidak berpotensi tsunami dan merupakan aktivitas tektonik normal di wilayah Cincin Api Pasifik. Namun, Cahaya Adi Wibowo menegaskan bahwa kewaspadaan tetap perlu dibarengi dengan kepekaan batin terhadap alam.
"Bumi berbicara lewat getarannya. Selama manusia menjaga keseimbangan batin dan lingkungan, bumi pun akan lebih tenang," tutupnya.
Rentetan 88 gempa di bawah cahaya purnama menjadi pengingat bahwa keseimbangan bumi dan manusia selalu bergerak seiring, di antara sains dan spiritualitas, ada ruang hening yang mengajarkan kesadaran.

Komentar